Artikel » Artikel/Pendidikan

Kurikulum LPTK; Dilema Kurikulum 2013

Oleh: Adri Febrianto, S.Sos., M.Si
Senin, 03 Juni 2013 | 11:51:00 WIB Share
Kurikulum LPTK; Dilema Kurikulum 2013

Kurikulum LPTK; Dilema Kurikulum 2013:

Kurikulum 2013 untuk pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi akan dilaksanakan pada semester pertama tahun 2013 ini. Telah dialokasikan anggaran secara fantastis melonjak menjadi 2,4 triliun rupiah dalam kurun waktu satu bulan (Tribunnews.com Kamis 28 Maret 2013). Kesiapan dalam pelaksanaan kurikulum pun sudah dirancang oleh pemerintah, adanya pelatihan guru, merancang silabus, dan buku yang sesuai dengan kurikulum tersebut.

Pelaksanaan kurikulum tentu langsung tertuju pada sekolah atau guru.  Guru tidak lagi dituntut menyiapkan silabus dan bahan ajar seperti kurikulum 2006 lalu, karena buku ajar sudah disiapkan pemerintah. Hal ini tentu akan mengurangi beban kerja guru. Namun, guru tetap menjadi objek yang harus dilatih dan didampingi dalam pelaksanaan kurikulum ini, terutama dalam proses pembelajaran di sekolah.

Menanggapi hal ini Wamendikbud Musliar Kasim, menjelaskan inti kurikulum 2013 adalah upaya penyederhanaan dan tematik integratif. Kurikulum disiapkan untuk mencetak generasi yang menghadapi masa depan, pembelajaran tematik, kedalaman implementasi kurikulum, dan menawarkan kesempatan pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan” (Padang Ekspres, 3/04/2013). Tematik integratif maksudnya materi ajar berdasarkan  mata pelajaran tertentu, atau bentuk tema-tema yang mengintegrasikan seluruh mata pelajaran.

Perubahan kurikulum 2013 tidak menjadi persoalan sekolah saja, hal tersebut juga berpengaruh pada Kurikulum di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). Sebab, LPTK cenderung mengalami perubahan dan mementingkan ilmu atau kebijakan dari lulusan yang akan dihasilkan. Melalui LPTK tentu akan menghasilkan calon tenaga pendidik yang beorientasi terhadap ilmu dan mata kuliah, dan dapat menunjang kemampuan dalam mengajarkan masing-masing disiplin ilmu.  Mata kuliah yang diajarkan pun mengantarkan lulusannya untuk menguasai kedua kemampuan tersebut.

Dulu LPTK yang dikenal sebagai ‘wider minded’ akhirnya berubah nama menjadi universitas. Hal ini dikarenakan adanya keinginan untuk menghilangkan keraguan terhadap kualitas lulusan yang hanya berorientasi untuk menjadi guru, dan hasilnya akan melemahkan penguasaan materi ilmu pengetahuan yang diajar. Perubahan menjadi universitas menjadikan lulusan sebagai “sarjana plus” yang menguasai dari masing-masing disiplin ilmunya dengan baik, serta memiliki kemampuan untuk mengajarkan ilmu tersebut, bukan sebagai lulusan yang memiliki kemampuan bidang pengajaran tetapi tidak memiliki penguasaan ilmu dengan baik.

Berkaca pada program kurikulum sebe­lumnya, tidak ada dina­mika nyata yang dilaku­kan kuriku­lum sebe­lumnya, dan peru­bahan kurikulum 2013 kini adalah hal yang wajar. Lalu muncul pertanya­an, apa­kah kuriku­lum tematik in­teg­­­ratif ­untuk seko­lah dasar dan menengah 2013 ini akan relevan dengan kebutuhan kurikulum LPTK yang menghasil­kan calon guru? Atau kurikulum di LPTK harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan lulusan untuk mengajar di sekolah? Dan apakah mata kuliah di LPTK juga harus tematik integratif?

Jika dikaji lebih dalam tidaklah tepat model tematik integratif diterapkan pada kurikulum pendidikan tinggi, sebab di perguruan tinggi mata kuliah sudah merupakan pengenalan dan pendalaman keahlian di bidang ilmu tertentu. Jadi rasanya sangat membingungkan menyatukan beberapa mata pelajaran yang semula hanya dua atau tiga sks diubah menjadi delapan atau sepuluh sks, atau berdalih pada tematik integratif. Oleh karena itu standar kurikulum yang diharapkan pada jenjang kualifikasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) meng­harapkan pada kualifikasi standar kualitas/mutu lulusan yang diha­silkan dengan learning outcomes (standar apa yang harus dikuasai), tidak dengan mengu­rangi jumlah mata kuliah dan menambah jam pelajarannya, seperti pelajaran siswa sekolah dasar.

Kualifikasi KKNI juga meng­harapkan kurikulum di LPTK yang diberikan pada mahasiswa harus relevan, dengan standar kualifikasi sebagai calon guru atau mengha­silkan lulusan sesuai dengan strata yang diprogramkan. Maka, lulusan PGSD tentu tidak sama dengan lulusan program studi lainnya yang akan mengha­silkan calon guru di SLTP dan SLTA, walaupun sebe­nar­nya standar tujuh untuk profesi guru atau guru profesi­onal di KKNI belum terpenuhi dari lulu­san sarjana pen­didikan.

Pada kuri­kulum 2013 untuk SMA/MA terda­pat ke­lom­­pok mata pela­jar­an wajib dan pemi­natan yang sesuai deng­an mata kuliah dan program studi di LPTK. Untuk kelompok peminatan Matematika dan Sains yang wajib dipelajari adalah Matematika, Biologi, Fisika dan Kimia. Mata Pelajaran wajib untuk peminatan Sosial adalah Geografi, Sejarah, Sosiologi dan Antropologi, dan Ekonomi. Mata pelajaran wajib untuk peminatan Bahasa terdiri dari Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Bahasa dan Sastra Asing lainnya serta Antropologi, ditambah dengan mata pelajaran pilihan minat dan bakat.

Pada kurikulum 2013 mata pelajaran Sosiologi berubah menjadi Sosiologi dan Antropologi. Bagian ini diulas, dikarenakan sedikit program LPTK di Indonesia yang memiliki Prodi Pendidikan Sosiologi Antropologi, seperti UNP, UNS Solo dan Unnes Semarang. Di Unimed Medan terdapat Prodi Pendidikan Antropologi dan di Universitas Negeri Jakarta terdapat Prodi Pendidikan Sosiologi. Di UNP prodi ini bernaung di Jurusan Sosiologi.

Pada kurikulum 2013 diharapkan mata kuliah antropologi setara dengan mata kuliah sosiologi, dan mata kuliah keahlian pendidikan dan pengajaran, atau mata kuliah antropologi seharusnya lebih banyak karena antropologi diajarkan khusus di peminatan bahasa di SMA.

Pemikiran ini sebagai dasar learning outcomes untuk calon guru. Di samping itu kurikulum di berbagai prodi juga harus diperhatikan penguasaan ilmu pengetahuan lulusannya. Artinya prodi juga mem­pertimbangkan kemampuan lulusan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keahlian untuk mengajarkan masing-masing disiplin ilmu tersebut.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.