Home/ Seputar Kampus
A A A
UNP Rawan Bencana, Mari Kita Siaga
Senin, 20 Desember 2010 | 06:01:00 WIB Share
Tempat Evakuasi

Tempat Evakuasi: Bangunan tempat evakuasi saat terjadi bencana gempa bumi dan tsunami di UNP

 Saat terjadi gempa bumi, goyangan gempa harus diperhatikan. Jika gempa bumi dengan goyangan lambat tapi dalam waktu yang lama, kemungkinan ancaman tsunami akan terjadi. Sebaliknya, jika goyangan keras namun hanya sebentar, ancaman tsunami tidak segitu besar. Ini dilihat dari bencana tsunami yang pernah terjadi, seperti di Aceh dan Mentawai. Hal ini diungkapkan Drs. Antorizon, M. Hum, Kosi Kedaratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), selaku pembicara dalam Sosialisasi Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami di Ruang Serba Guna (RSG) UNP Kamis (9/10) lalu. Setelah terjadi gempa bumi, lanjutnya, air laut juga menjadi perhatian utama, air surut atau tidak. “Kalau air laut sudah surut dan goyangan gempa lama, segeralah cari tempat yang aman,” ujarnya.

    Sementara itu, Dr. Ahmad Fauzi, M.Si, Ketua Jurusan Fisaka, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dengan parameter-parameter fisika tsunaminya menjelaskan kekuatan gelombang tsunami pascagempa terjadi. Ia menjelaskan, gelombang tsunami yang berada di laut lebih kuat daripada gelombang tsunami yang telah mencapai daratan. Namun gelombang tsunami di daratan lebih tinggi daripada gelombang tsunami saat di laut. “Hal ini disebabkan karena perbedaan kedalaman,” ungkapnya. Semakin ke darat, tambahnya, gelombang tsunami semakin tinggi, karena kedalamannya semakin berkurang.

UNP yang terletak pada zona merah baik itu dari jalur gempa bumi maupun ancaman tsunami, menjadi perhatian khusus dari beberapa pengamat. Untuk mengurangi banyaknya korban jika bencana besar itu datang, beberapa bangunan di UNP pun disulap menjadi gedung yang sekaligus shelter guna memfasilitasi evakuasi saat terjadi bencana. Beberapa bangunan tersebut ialah gedung Fakultas Ilmu Pendidikan, gedung Fakultas Ekonomi, Masjid Al Azhar yang tengah dibangun, gedung Program Pascasarjana, Pustaka UNP, Labor Microteaching, Labor Fisika, Biologi, dan Kimia, Labor Fakultas Ilmu Pendidikan, serta gedung Fakultas Bahasa dan Seni yang juga tengah direnovasi.

Pertimbangan gedung-gedung tersebut bisa dijadikan shelter dilihat dari tinggi bangunan. Fauzi menjelaskan, tinggi masing-masing bangunan telah melebihi perkiraan tinggi tsunami yang akan terjadi saat mencapai daratan. Ia memperkirakan tinggi gelombang tsunami mencapai pinggir pantai maksimun enam meter. Sedangkan gedung-gedung UNP telah mencapai sembilan meter. “Jadi gedung-gedung tersebut cukup aman dijadikan shelter,” jelasnya.

Fauzi menambahkan, UNP pun mulai menerapkan model siaga bencana berbasis kelas di tiap fakultas beranggotakan sekitar 50 mahasiswa. Gugus itu tersebar di UNP seperti gugus siaga bencana FIP, gugus siaga bencana FE, gugus siaga bencana FIS, gugus siaga bencana FIK, gugus siaga bencana FBS, gugus siaga bencana FT, gugus siaga bencana Pustaka UNP, gugus siaga bencana BAAK/BAUK/BAPSI, dan gugus siaga bencana FMIPA. Setelah itu tiap-tiap fakultas membentuk klaster bencana, berdasarkan jurusan yang ada. Evakuasi dilakukan berdasarkan shelter yang tersedia ditiap-tiap fakultas. “Dengan begitu civitas UNP semakin siap menghadapi bencana,” Salim

gravatar sylvia - jakarta @ Senin, 28 Maret 2011 | 07:24:00 WIB WIB
Selamat atas UNP, yg telah mengantisipasi masyrakat khususnya generasi penerus bangsa yg tinggal di wilayah rawan gempa, dengan mempersiapkan gedung2 aman gempa dan menggunakan pondasi sarang laba-laba. Sudah selayaknya semua gedung di wilayah rawan gempa meniru konsep antisipasi UNP. Sukses buat UNP 
Kirim komentar anda
Nama
Alamat
Email
Komentar
Security Code

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.