Home/ Citizen Journalism
A A A
Ini Sudah Biasa: Ketika PSK dan warga biasa hidup bersama
Kamis, 25 November 2010 | 23:07:00 WIB Share
Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik: Laporan ini ditulis kru SKK Ganto (Santi Syafiana) dalam Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut “Persma Bernarasi di Bumi Lampung” yang digelar Lembaga Pers Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung, 4-9 Oktober 2010.

 Kamarudin tak percaya bisa berada di ruangan itu. Bertembok beton dengan coretan di sana-sini. Gelap dan dingin. Jeruji besi setinggi  dua meter memagarnya. Tak bisa keluar karena digembok dan dijaga petugas.

    Udin sedang tidur di rumahnya kala itu. Sayup-sayup Ia mendengar sirine polisi. Rombongan polisi masuk ke rumahnya tiba-tiba. Udin ditangkap dengan tuduhan penyedia tempat Pekerja Seks Komersil (PSK). Udin pasrah. “Mungkin saya memang bersalah,” katanya. Ia siap diinterogasi polisi. Sembilan hari Udin di sana. Setelah itu, pengadilan memutuskan Ia tak bersalah.

Udin bertubuh pendek dan kurus. Kulitnya hitam dan sudah keriput. Suaranya serak-serak basah hingga sulit didengar. Jumat, (8/10) itu, Ia memakai celana dasar panjang hitam dan jas abu-abu tempo dulu. Kopiah hitam lusuh bertengger di kepalanya. Usia Udin sudah 76 tahun. Di sana, ia ketua RT sejak tahun 80-an.

“Kok gak ganti-ganti Pak?”

“Gak tahu, dah habis masa, diangkat lagi,” katanya sembari tertawa.

Jabatan itulah yang mengantarnya ke penjara pada masa itu. Kejadiannya sudah lama. Udin lupa tepatnya.

Sebenarnya, Udin asli Sulawesi. Di usia 20 tahun, Ia merantau ke Lampung. Ia menetap di sana karena menginap di rumah saudara. Baginya, hidup di lokalisasi ini banyak tantangan. Acap kali warga bentrok dengan polisi. Mereka datang tiba-tiba menangkap para PSK. Sepanjang 50 tahun, kira-kira 500 orang tertangkap. Namun itu hanya sehari. Besoknya mereka keluar dengan membayar Rp.500.000.

Udin merasa tak nyaman. Sering terpikir untuk pindah. Namun keadaan ekonomi memaksanya tetap tinggal. “Aneh aja lingkungannya,” katanya. Maka, Udin tak membiarkan anak-anaknya, Akiko dan Adi, tinggal di sini. Akiko yang berusia 23 tahun bekerja di Sulawesi dan Adi , 21 tahun menjadi marinir di Teluk.”Takutnya juga terbawa arus,” katanya sembari mengernyitkan kening.

Pemandangan Teluk Betung Selatan,Bandar Lampung sudah puluhan tahun lalu menjadi tempat lokalisasi PSK. Ia di bawah Dinas Sosial Bandar Lampung. PSK yang beredar di luaran, dikumpulkan di tempat itu. Kawasan itu ada lima gang. Mereka berdampingan dengan rumah penduduk. Tandanya, jika tertulis wisma, café atau rumah pijit, berarti tempat mereka beroperasi. Di sana, mereka dibina oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun Komisi Penanggulangan Aids (KPA). Mereka juga dimodali membuka usaha. Namun, hanya beberapa yang berhenti. “Mungkin usaha mereka gagal,”kata Udin.

Walau ada yang berhenti, namun terus ada regenerasi. Novianti, ibu rumah tangga, mengatakan, mereka kebanyakan ABG. “Rata-rata umur mereka 16 tahun,” katanya. Rumah kecil hijau Novi diapit wisma PSK. Ia membuka kedai kelontong di depan rumah. Novi dengan PSK tetangganya itu berhubungan baik. Mereka sering berbelanja di kedai.

Tiap malam, mobil motor berseliweran di tempat ini. “Biasanya jam 8 malam ke atas lah,” katanya. Banyak dari mereka lelaki paruh baya. Dapat cerita, mereka dibayar paling mahal 150.000 selama 10 menit. Walau begitu, Novi tak terganggu. Ia nyaman-nyaman saja. “Sudah terbiasa sih Dek,”katanya sambil terus mengupas bawang merah.

“Bisa temuin Kami sama mereka Mbak?”

“Wah, kalau jam segini mereka masih tidur, sore atau malam aja kesini Dek ,”katanya.

Setelah itu, kami menyusuri gang dua hingga gang lima. Rumah-rumah tersusun rapat. Berbaur antara wisma PSK dengan rumah tangga. Pintu dan tirai jendela tertutup. Tak tampak seorang pun di sekitar itu. Padahal matahari sudah naik. Waktu sudah menunjukkan 11.30. Namun sang penghuni rumah belum juga muncul.

Sekitar pukul 11.45, wanita ber-tanktop putih ketat melintas di depan kami. Memakai rok hanya menutupi setengah paha. Rambutnya pirang tergerai sepunggung, Ia berjalan tergesa-gesa. Kami mengejar, dia masuk wismanya. Tak keluar lagi. Kami menunggu di luar.

Kemudian, wanita bertubuh gempal keluar dari wisma. Ia berkulit hitam, mata besar, bibir tebal dan hidung jambu. Rambutnya pendek seleher. Ia hanya memakai tanktop garis-garis coklat kuning dan celana setengah paha. Bergerak sedikit, pusarnya kelihatan. Bibir tebal itu dipoles dengan pewarna merah muda dan kuku kaki diberi kutek merah tua.

Namanya Erna. Ia berusia 36 tahun. Ia asli Kalianda. Sudah 6 tahun ia ngontrak di sana. Namun sayang, ia tak mau bercerita banyak. “Saya kemari mencari uang, itu saja,” katanya ketus. Ia pun masuk ke dalam dan tak keluar.

Kami menghampiri Jumiati, pemilik kontrakan Erna. Selain Erna, Yuni juga ngontrak di sana. “Mereka sama-sama PSK,” kata Jumi berbisik. Cerita Jumi, Erna menjadi PSK karena frustasi ditinggal suami, begitupun Yuni. Erna sudah punya dua anak. “Mereka pernah dititip di sini,” kata Jumi.

Bagi Jumi, mereka sah-sah saja tinggal disini selama tak beroperasi di rumahnya. Jumi juga melarang, laki-laki datang ke rumah. Memang, Jumi sering melihat beberapa laki-laki menjemput mereka. Tapi, Jumi tak mempermasalahkan itu. Baginya, anak-anak tak tinggal di sana. Jefri, anaknya berusia 18 tahun disekolahkan di Jawa. “anak-anak gak boleh di sini,gak baik,” katanya sambil mengurut dada.

“Gimana rasanya berdampingan sama PSK Buk?,”

“Kami hidup berdampingan secara damai kok, karena udah terbiasa kali ya,”seloroh Jumi.

Sama dengan Kamarudin, warga dengan PSK hidup seperti biasanya. Saling menghormati dan membantu. “Ya….semuanya karena sudah biasa,” kata Udin tersenyum ramah.

Laporan ini ditulis kru SKK Ganto (Santi Syafiana) dalam Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut “Persma Bernarasi di Bumi Lampung” yang digelar  Lembaga Pers Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung, 4-9 Oktober 2010.

gravatar Romi Mardela - Padang @ Senin, 29 November 2010 | 03:33:00 WIB WIB
Menyenangkan baca tulisan ini. Hanya menampilkan secara nyata bagaimana masyarakat yang hidup berdampingan dengan PSK yang ternyata tidak ada masalah seperti yang selalu diributkan orang selama ini. Semoga Ganto bisa melahirkan kader2 yang bisa menulis lancar dan mengalir seperti ini. Salam Sukes selalu 
gravatar indri kurniawati - Padang Selatan @ Minggu, 27 Maret 2011 | 07:01:00 WIB WIB
Saya tinggal di Padang Selatan. Tetangga saya juga PSK. Kalau dibilang bisa hidup berdampingan dg damai, rasanya tidak. 1. Hampir tiap hari dia bertengkar dengan suaminya, banting-banting, kata-kata kotor dan jorok juga biasa keluar dari mulutnya. Hal ini sangat tak baik didengar oleh anak saya yg masih kanak2. 2. Hal lain yg kami khawatirkan adalah masalah kesehatan. Saya sangat khawatir tertular penyakit menular karena perilaku zina ini. Penyakit seperti Gonorhoe, Sipilis, bisa saja menul 
gravatar bagus arady - bekasi @ Senin, 07 Mei 2012 | 10:47:00 WIB WIB
Ya kita harus menyadari..dan tidak boleh membeda2 kan karna dai bisa jadi psk karna ulah suaminya..dan kalau bisa kita yg lebih tahu agama mungkin kita bisa kasih saran yg baik...sebenernya psk itu nangis batin...sebenernya hatinya pingin kayak kita...yg hidup dengan keluarga utuh... 
Kirim komentar anda
Nama
Alamat
Email
Komentar
Security Code

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.