Home/ Seputar Kampus
A A A
Pentingnya Public Speaking Bagi Seorang Guru
Senin, 15 Mei 2017 | 23:31:00 WIB Share

Ada tiga tujuan utama public speaking yaitu informasi, membujuk atau memberikan saran, dan menghibur. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Edwin Musdi, M.Pd., saat sambutan yang sekaligus membuka secara resmi Kegiatan Pelatihan Public Speaking For Teacher yang diangkatkan oleh Divisi Informasi dan Komunikasi Mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) angkatan ke-V di Aula Pasca Sarjana UNP, Minggu (14/5).

Acara ini bertemakan “Menciptakan Guru Profesional yang Menginspirasi dan Menggerakan” dengan pemateri Nofrion, S.Pd,. M.Pd,. yang merupakan Dosen Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sodial UNP sekaligus kepala sekolah Public Speaking di salah satu tempat di Kota Padang. Adapun untuk pesertanya ialah seluruh peserta PPG SM3T yang berjumlah 206 orang termasuk di dalamnya panitia pelaksana kegiatan.

Ketua Pelaksana, Rizqi Pratama Adha, S.Pd., mengatakan bahwa pelatihan public speaking ini bertujuan untuk mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk melatih kompetensi sosial calon guru.

Sementara itu, Nofrion saat memulai materinya menyampaikan bahwa setiap seorang pembicara jika ingin meningkatkan kualitas berbicaranya, maka perlu evaluasi setelah ia berbicara.  

Selain itu, Berbicara di depan umum tidak boleh dianggap remeh karena bisa menimbulkan permasalahan. “Apalagi menjadi seorang guru, jika salah ucap maka akan peserta didik peserta didik akan salah memahami,” ungkap Nofrion.

Nofrion menjelaskan beberapa teknik dasar dalam public speaking.  Pertama yaitu suara. Sebenarnya, tidak ada suara yang sumbang melainkan hanya ada cara memproduksi suara yang tidak baik. “Apapun timbre suara kita, harus diproduksi secara maksimal,” ungkapnya.

Kedua yaitu Verbal. Sebagai seorang guru pilihan kata menjadi salah satu yang perlu diperhatikan, jangan sampai seorang guru memberikan rasa bosan atau jenuh kepada peserta didiknya karena proses pembelajaran yang sama saja setiap harinya. Memulai pembelajaran hendaknya dibuka dengan kata-kata motivasi, cerita lucu atau ajak peserta didik menelaah kejadian terkini. “Bawalah ke dalam kelas karena itu akan menjadi hal yang menarik,” katanya.

Ketiga yaitu Visual atau Cara Membawakan Diri. Ini bersangkutan dengan hubungan emosional guru dengan peserta didik. “Saya guru dan Ananda Peserta didik. Jadi, tugas saya ialah mempercepat tumbuh kembang Ananda,” ujar Nofrion. Kata Nofrion, Guru yang hebat ialah mereka yang bisa membimbing, membuka wawasan dan menyentuh siswanya.

Ia berpesan bahwa untuk memanggil peserta didik jangan pernah memanggil dengan sebutan gelar atau ciri-ciri fisik dan di mana tempat duduknya. Akan tetapi,  panggillah dengan namanya dengan benar. Jika memarahi, jangan pula memarahinya di depan peserta didik lainnya. “Lebih baik tandai saja namanya dan panggil peserta didik ke depan setelah peserta didik lainnya keluar kelas. “Ketika itulah saat yang tepat untuk menasehatinya,” tutup Nofrion.

Penulis : Okta Vianof

Editor: Arrasyd

Kirim komentar anda
Nama
Alamat
Email
Komentar
Security Code

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.