Artikel » Laporan/Laporan Utama

Berburu Sertifikat TOEFL Palsu

Oleh: Yola Sastra dan Sri Gusmurdiah
Minggu, 29 November 2015 | 13:20:00 WIB Share

Dari 200 sertifikat TOEFL yang dicurigai dan dikumpulkan kembali ke Balai Bahasa, 180 sertifikat dinyatakan palsu.

 Tia (bukan nama sebenarnya) mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (UNP) TM 2010 bersama salah seorang reporter Ganto (dalam penyamaran) tengah berdiri di depan pagar Fakultas Ekonomi (FE), Rabu (5/8). Sesekali, Tia mengecek telepon genggamnya. Ia menunggu kabar dari Wandi (juga bukan nama sebenarnya), mahasiswa Fakultas Teknik (FT) yang akan menjual sertifikat TOEFL kepadanya. Sebelumnya, Tia telah menghubungi dan mengirimkan nama, tempat, tanggal lahir, beserta alamatnya ke Wandi.

Sepuluh menit menunggu, Wandi datang dengan mengendarai sebuah sedan berwarna hijau. Dengan gaya bicara yang akrab, Wandi menyilakan Tia dan reporter Ganto masuk ke mobil, serta langsung memberikan selembar sertifikat TOEFL yang dikeluarkan atas nama Balai Bahasa UNP. “Ini sertifikatnya,” ujar Wandi mengulurkan sertifikat ke tangan Tia.

Tia langsung mengambil sertifikat tersebut. Namun, setelah melihat sertifikat yang diberikan, Tia menemukan kesalahan dalam penulisan namanya. “Nama saya bukan seperti ini, Bang,” komplain Tia, Rabu (5/8).

Setelah mendengar penjelasan Tia, Wandi mengambil kembali sertifikat TOEFL itu, lalu menelepon seseorang. Usai menelepon, Wandi meminta Tia dan reporter Ganto tetap di dalam mobilnya. Mobil pun dijalankan dan berhenti di depan parkiran FT. Wandi keluar, kemudian kembali bersama seorang pria, rekannya.

Setelah Wandi dan rekannya masuk, mobil pun kembali dijalankan menuju ke Jl. Tiung Air Tawar Barat. Beberapa saat kemudian mobil berhenti. Rekan Wandi pun turun, berjalan tanpa diketahui arah dan tujuannya. Lima belas menit menunggu, pria tersebut kembali masuk ke mobil. Wandi menjalankan mobil dan kembali ke parkiran FT.

Sesampainya di parkiran, Wandi dan rekannya turun. Mereka pergi, masih dengan arah dan tujuan yang tidak diketahui. Dua menit berlalu, Wandi kembali tanpa rekannya. Namun, dalam waktu yang hampir bersamaan, rekannya datang dengan mengendarai motor sport berwarna merah. “Tunggu di sini sebentar ya, Kak!” pinta rekan Wandi kepada Tia dan reporter Ganto sebelum pergi. Sekitar lima belas menit berlalu, pria itu kembali dengan membawa sertifikat TOEFL yang baru dan meyerahkannya ke Tia. Tia mengambil sertifikat TOEFL tersebut dan menyerahkan uang sejumlah Rp150 ribu ke Wandi.

Jual beli sertifikat TOEFL tidak hanya dilakukan oleh Wandi dan kawan-kawan. Beberapa mahasiswa FT lainnya juga melakukan hal yang serupa. Sebut saja Randi (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Program D-3 TM di Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Padang (UNP) 2012. Mendapati peraturan tentang wajibnya sertifikat TOEFL sebagai salah satu persyaratan ujian kompre di FT, Randi telah mangikuti TOEFL sejak semester satu. Namun sayang, skor TOEFL-nya hanya 370, belum mencapai skor minimal TOEFL di FT, yakni 400.

Menyadari kemampuan bahasa Inggrisnya masih kurang, pada semester enam lampau, Randi memilih untuk membeli sertifikat TOEFL melalui bantuan teman satu jurusannya. Akhirnya, dengan mengeluarkan uang sejumlah Rp130 ribu, ia bisa mendapatkan sertifikat TOEFL dengan skor 420, tanpa tes. Sertifikat langsung didapatkan sehari setelah memesannya kepada temannya itu.

Randi mengaku terpaksa membeli sertifikat TOEFL karena terdesak segera kompre pada Juni 2015. Tidak ada jalan lain baginya selain membeli sertifikat TOEFL untuk tetap bisa mengikuti kompre. “Mau bagaimana lagi, tidak mungkin kompre dan wisuda saya ditunda hingga tahun depan,” kilah pria berkulit putih itu, Kamis (6/8).

Ditemui di tempat yang sama, Taufik (bukan nama sebenarnya) membenarkan apa yang disampaikan rekannya, Randi. Taufik mengaku, ia dan senior satu jurusannya sudah beberapa kali menjual sertifikat TOEFL kepada mahasiswa yang membutuhkan. Sertifikat tersebut, kata Taufik, dikeluarkan oleh Balai Bahasa UNP yang diakui oleh unversitas untuk mengeluarkan sertifikat TOEFL bagi mahasiswa.

Melalui seorang oknum yang bekerja di Balai Bahasa UNP, kata Randi, ia dan seniornya bisa mendapatkan sertifikat TOEFL dengan harga Rp130 ribu per sertifikat. Sertifikat tersebut dijual kembali seharga Rp150 ribu ke mahasiswa lainnya, untung Rp20 ribu. “Namun, kepada teman dekat, kami tetap menjualnya seharga Rp130 ribu,” ungkap Taufik, Kamis (6/8).

Sekretaris Balai Bahasa UNP, Dra. Aryuliva Adnan, M.Pd., membantah pembuatan sertifikat TOEFL palsu dilakukan oleh orang-orang Balai Bahasa. Ia menjelaskan, di Balai Bahasa memang telah terungkap beberapa kasus pemalsuan sertifikat. Namun, oknumnya bukan orang Balai Bahasa, melainkan mahasiswa. “Ada beberapa oknum dari pihak mahasiswa FT,” katanya, Kamis (3/9)

Aryu menjelaskan, pimpinan dan pelaksana di Balai Bahasa hanya tiga orang. Ketua, dia, dan Os pengawai-nya. “Jadi kalau bocornya dari Balai Bahasa, tentu yang dituntut nantinya adalah hanya kami bertiga sebagai pimpinan dan pelaksana di Balai Bahasa. Mudah-mudahan tidak,” tutupnya.

***

 Ditemui di ruangannya, Rabu, 16 September lalu, Dekan FT Drs. Syahril, ST., MSCE., Ph.D mengatakan, isu beredarnya sertifikat TOEFL palsu yang dikeluarkan Balai Bahasa UNP telah diketahui oleh pihak Balai Bahasa sejak dulu. Satu tahun lampau, pihak Balai Bahasa UNP pernah menginformasikan ke pihak FT bahwa ada oknum yang memalsukan sertifikat TOEFL. Hanya, saat itu pihak Balai Bahasa tidak terlalu serius mengusut masalah tersebut.

Namun, Agustus lalu, Kepala Balai Bahasa UNP, Dra. Yenni Rozimela, M.Ed, Ph.D. kembali menghubungi Syahril via telepon. Yenny menginformasikan tentang beredarnya sertifikat TOEFL palsu di FT. Ia juga meminta mahasiswa mengumpulkan kembali sertifikatnya untuk dicek.

Akhirnya, pada 7 September lalu, pihak FT menyerahkan 200 sertifikat TOFEL ke Balai Bahasa. Setelah diklarifikasi berdasarkan nomor sertifikat, tanda tangan, kop, angka, dan bahasa tulisannya, didapatkan 180 dari 200 sertifikat  tersebut palsu.

Usai semua sertifikat TOEFL itu diperiksa, Selasa (8/9) pihak Balai Bahasa langsung mendatangi Syahril dan menunjukkan mana saja sertifikat TOEFL yang asli dan palsu. Pada sertifikat palsu, ditemukan nomor sertifikat yang sama dengan sertifikat asli yang dikeluarkan Balai Bahasa sebelumnya, penggunaan kata-kata bahasa Inggris dalam sertifikat salah, tanda tangan di-scan dan cap yang berbeda, serta rumusan skor konvensinya salah.

  Menindaklanjuti temuan itu, Syahril pun membatalkan sertifikat TOEFL yang palsu tersebut dan menginformasikan kepada mahasiswa FT yang mengumpulkan sertifikat palsu pada wisuda pada 12 September lalu untuk kembali mengulang tes TOEFL. Selama sertifikat dari hasil TOEFL asli belum dikumpulkan, ijazah mereka ditahan. “Ijazah akan diserahkan jika mereka telah menyerahkan hasil tes yang asli,” kata Syahril, Rabu (16/9).

Sementara, oknum yang memalsukan dan menjual sertifikat TOEFL, kata Syahril dilakukan oleh beberapa mahasiswa yang saling bekerja sama. Masalah pun telah ditindaklanjuti oleh Wakil Rektor I UNP. Pelaku telah dilaporkan dan ditahan oleh polisi. Namun, berapa jumlah dan siapa pelakunya, Syahril enggan untuk menyebutkan. “Polisi yang tahu orangnya,” ujar Syahril.

Untuk ke depannya, Syahril menjelaskan, di FT tidak lagi menggunakan sertifikat TOEFL untuk persyaratan kompre. Mahasiswa cukup tes TOEFL dan pihak Balai Bahasa akan menyerahkan daftar skor TOEFL-nya ke jurusan atau prodi yang bersangkutan. Pihak fakultas pun telah menyepakati, untuk ke depannya, TOEFL di FT hanya akan bekerja sama dengan Balai Bahasa UNP. Sebelumnya, FT pernah menerima hasil TOEFL dari berbagai lembaga resmi, seperti Balai Bahasa UNP, Balai Bahasa Universitas Andalas, Balai Bahasa Universitas Bung Hatta, Lembaga Bahasa Asing, dan Balai Bahasa Universitas Bengkulu. “Ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan, termasuk biaya juga,” tutupnya.

Wakil Rektor I UNP Prof. Dr. Agus Irianto membenarkan adanya beberapa pelaku pemalsu sertifikat TOEFL yang sedang diidentifikasi dan diproses secara hukum. Namun, ia bungkam ketika ditanya terkait siapa pelaku dan bagaimana kelanjutan proses hukumnya. “Yang pasti mereka kita proses, dan biarkan hukum yang jalan,” kata Agus, Selasa (22/9).

Ketika dikonfirmasi ke Polsek Padang Utara sebagai kantor polisi terdekat, tidak ditemukan adanya laporan dari pihak UNP terkait pemalsuan sertifikat TOEFL. Salah seorang aparat kepolisian yang sedang bertugas saat itu mengatakan, belum ada laporan pemalsuan dari pihak UNP. “Biasanya orang UNP memang melaporkan (kalau ada kasus, red.) ke kami selaku sentral pelayanan kepolisian. Tapi selama September ini belum ada,” ujar petugas yang tak mau disebutkan namanya, sembari memperlihatkan buku catatan laporan kepolisian, Selasa (22/9).

Reporter: Eka, Fitri, Juliana, Sri, Windy

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.