Artikel » Sastra dan Budaya/Cerpen

Mak Suni

Oleh: Astuti Lindasari
Selasa, 24 Maret 2015 | 13:56:00 WIB Share

“Mayatnya ditemukan di tengah sawah,” kata Ayah kepadaku. 

Mataku terbelalak, Mak Suni yang kuanggap sebagai nenek sendiri telah meninggal. Aku menangis. Aku tak dapat menahan kesedihanku. Aku benar-benar merasa kehilangan. Bukan kepergiannya menghadap Sang Khalik yang kutangisi. Aku tahu semua makhluk ciptaan Tuhan pasti akan mati suatu saat nanti, tinggal menunggu giliran saja. Tapi Mak Suni, wanita tua yang malang itu, tak seharusnya menghadap Tuhan dengan cara seperti itu. Tubuhnya ditemukan kaku dan berlumpur di tengah sawah yang baru saja panen. Hatiku ngilu membayangkannya.

Aku dan Mak Suni tidak mempunyai hubungan darah sama sekali. Mak Suni seorang perempuan tua pikun yang tinggal tak jauh dari rumahku. Aku mengenalnya semenjak aku masih kanak-kanak. Waktu itu, Mak Suni belum pikun seperti sekarang ini. Meskipun tabiatnya kadang tidak menyenangkan, tapi aku sangat menyayanginya seperti keluargaku sendiri.

“Mengapa Ayah tidak memberitahuku kalau Mak Suni telah meninggal seminggu yang lalu?” Tanyaku sambil menangis kepada Ayah. 

Aku tak habis pikir, mengapa tak seorang pun memberitahuku perihal kematian Mak Suni. Akulah yang sangat menyayangi Mak Suni saat ini. Akulah yang sangat bahagia melihat Mak Suni tertawa. Akulah yang sabar menghadapi kepikunan Mak Suni. Akulah yang selalu senang memberitahu namaku meski pun ia sudah menanyakannya beratus kali. Akulah orang yang saat ini sangat merasakan kehilangan Mak Suni. Mengapa tak ada yang memberitahuku? 

***

“Untuk apa kau menanyakan kuburan Mak Suni?” Tanya Uni Ros cuek kepadaku.

“Aku belum menziarahi kuburan Mak Suni, Uni. Aku baru pulang dari Kota tadi siang dan aku sangat sedih mendengar berita ini,” jawabku jujur kepada Uni Ros. Mataku berkaca-kaca.

“Kuburannya di belakang sana!” Kata Uni Ros dengan galak. 

“Terima kasih Uni.” 

Aku segera bergegas menuju lokasi yang ditunjuk Uni Ros kepadaku. Uni Ros anak tertua Mak Suni. Dialah satu-satunya anak yang sudi menampung perempuan tua yang pikun itu. Meskipun Uni Ros tak merawat Mak Suni dengan baik, setidaknya Uni Ros masih punya hati untuk memberikan tempat yang layak bagi Mak Suni di usia senjanya. Sementara anak cucunya yang lain tak pernah pulang lagi dari rantau sejak sepuluh tahun yang lalu.

Pernah suatu ketika aku mendengar Mak Suni menangis tersedu ketika dia dimarahi oleh Uni Ros karena minta makan. Wajah keriputnya semakin pias dibasahi oleh air mata. Dalam hati aku benar-benar merutuki perlakuan Uni Ros kepada orang yang telah melahirkannya itu. Tak taukah dia bahwa surga yang dia cari ada di telapak kaki Mak Suni?

“Makan saja kerjaan Amak. Sekarang beras mahal!” Teriak Uni Ros.

“Tapi Amak kan belum makan dari tadi pagi Ros,” ujarnya mengiba.

“Apanya yang belum makan Mak. Baru saja Amak selesai makan. Piring tadi saja belum dicuci Mak,” jawab Uni Ros semakin garang.

“Amak belum makan Ros,” ujar Mak Suni sayup.

“Dasar orang tua pikun!”

Aku melanjutkan langkah dengan gontai menuju pemakaman Mak Suni. Dalam hati aku benar-benar cemas. Akankah aku sanggup menyaksikan gundukan tanah yang menghimpit tubuh ringkih Mak Suni nanti? Aku tak henti menangis. Sesegukan.

Dalam derap langkahku menuju tempat peristirahatan terakhir Mak Suni, bayangannya terus berkelabat dalam pikiranku. Aku merindukan Mak Suni bertanya dengan nyinyir namaku lagi. Aku merindukan tawanya lagi, dan aku merindukan Mak Suni menesehatiku agar terus berbakti kepada orang tua. Aku merindukannya.

“Cucu, namamu siapa?” suara Mak Suni parau bertanya padaku. Ini kali yang keseratusnya Mak Suni bertanya hal yang sama padaku dalam seminggu ini. 

“Rani Mak,” jawabku sabar dengan senyum yang masih mengembang. Aku selalu senang menyebutkan namaku berulang kali pada Mak Suni. 

“Kalau sudah besar nanti, jangan lupa Kau bantu ibu bapakmu. Jangan terlantarkan mereka. Bisa-bisa kau jadi anak durhaka kalau di telapak kaki mereka tak kautemukan surga yang kau cari itu.” 

Aku merinding mendengar petuah dari Mak Suni. Mata tuanya menerawang jauh ke angkasa. Dari binar matanya terlihat dengan jelas betapa pahitnya jalan hidup yang harus dijalaninya dengan kepikunannya sekarang ini. Di hari tua yang seharusnya dikelilingi oleh orang-orang tercintanya, Mak Suni malah terabaikan dari kehidupan keluarganya. Tak ada satu pun yang memedulikannya. Jangankan dilayani sebagaimana mestinya, bahkan untuk makan saja Mak Suni harus berurai air mata. Aku lalu memeluk Mak Suni. Erat sekali. 

Seminggu lalu, saat aku berpamitan kepada Mak Suni untuk berangkat ke kota, Mak Suni sempat mengucapkan satu kalimat yang tak kutahu apa maksudnya. Tentu saja setelah berulang kali menanyakan namaku, karena setiap kali aku mengunjunginya, Mak Suni selalu menganggapku orang baru. Namaku tak pernah lekat diingatannya meskipun kami sering bercerita tentang banyak hal. 

“ Hidup kadang seperti ini Rani, jangan hidup seperti Amak ini.”

Jangan hidup seperti Amak ini. 

Satu kalimat yang ingin sekali kutanyakan apa maksudnya. Bahkan sampai detik ini. Mengapa Aku tak boleh hidup seperti Mak Suni? Bukankah Mak Suni orang yang sangat baik? Bukankah Mak Suni orang yang kuat meski di usia senjanya dia harus menanggung derita sedemikian rupa? Aku ingin belajar kekuatan itu darinya. Aku ingin belajar mencintai hidupku darinya. Tapi mengapa Mak Suni tak ingin aku hidup sepertinya? Apa dan bagaimana Mak Suni. Ah entahlah, di mataku Mak Suni adalah seorang nenek yang begitu baik.

Aku terus berjalan menuju pemakaman Mak Suni, tak kuhiraukan panasnya terik siang ini, yang terpenting bagiku adalah bisa tiba di pemakaman Mak Suni secepat mungkin. Hatiku pilu. Bukan hidupnya saja yang tersisih, bahkan di kesendiriannya sekarang dalam himpitan tanah pun dipisahkan terpelosok di ujung semenanjung seperti ini. Dosa apa yang pernah Mak Suni lakukan kepada anak-anaknya sehingga mereka begitu mendendam kepada Mak Suni? Aku tak pernah benar-benar tahu. Kepada siapa harus kutanyakan semua tanda tanya yang berkelebat di otakku ini?

Aku sampai di pemakaman Mak Suni. Bunga-bunga yang ditaburkan di atas gundukan tanah Mak Suni kini sudah mulai layu. Rumput-rumput kecil sudah mulai tumbuh liar. Seketika aku tersedu menatap persemayaman terakhir Mak Suni. Keadaan ini benar-benar menyesakkan dadaku, apa yang terjadi dengan Mak Suni sebenarnya. Mengapa Mak Suni ditemukan di tengah sawah, dan apa yang dilakukannya?  

SELESAI

Share on:

Sastra dan Budaya/Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.