Artikel » Ensiklopedia

Dimara, Pejuang Putra Irian Barat

Oleh: Yulia Eka Sari
Minggu, 22 Maret 2015 | 23:53:00 WIB Share
Dimara, Pejuang Putra Irian Barat

Dimara, Pejuang Putra Irian Barat:

Menjadi bangsa besar dengan menghargai jasa para pahlawannya adalah kepatutan yang harus direnungkan oleh setiap warga negara di dunia. Begitu pula Indonesia yang tengah berjalan menapaki lika-liku jalan sang bangsa besar tersebut. Dengan pulaunya yang membentang dari Sabang sampai Merauke, Indonesia dengan ‘orang terdahulunya’ berjuang mempertahankan wilayahnya yang luas.

Adalah Johanes Abraham Dimara, seorang Mayor TNI yang memiliki andil besar dalam perjuangan pengembalian Irian Barat ke wilayah Republik Indonesia. Sebagai pribadi pejuang, Dimara tidak lepas dari akar budaya dan situasi politik saat perjuangannya berlangsung. Ia berpegang pada pepatah lama dari bahasa Biak, “fa ido ma, ma ido fa” (memberi jika menerima, menerima jika memberi). Baginya hidup itu harus saling memberi dan menerima.

Putra dari William Dimara ini lahir di Korem, Biak Utara, Papua pada 16 April 1916. Laki-laki yang akrab dipanggil Arabei ini sejak usia 13 tahun ini menyelesaikan sekolah dasarnya pada 1930. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke sekolah pertanian hingga selesai pada 1935. Setelah itu, Dimara kembali bersekolah di sekolah injil dan menekuni profesi sebagai guru agama Kristen di Leksula, Maluku Utara, tepatnya di pulau Buru.    

Dimara mulai diperkenalkan dengan dunia militer pada usia 20 tahun. Perjuangannya bermula di awal milenium ketiga ketika masalah Irian muncul ke permukaan. Angin perubahan telah bertiup cukup kuat di provinsi paling Timur Indonesia itu. Seruan untuk merdeka, lepas dari Indonesia pun menggema cukup keras.

Rupa perjuangan Dimara sebenarnya melekat kuat ketika ia melaksanakan tugas untuk memimpin pasukannya masuk ke Irian Barat. Pasukan infiltrans yang dipimpinnya berhasil menangkap seorang polisi Belanda, hoofagent kelas I, Louis van Krieken pada Oktober 1954 di Teluk Etna, Fakfak, Irian Jaya yang pada waktu itu masih dalam kekuasaan Belanda. Polisi Belanda yang ditangkapnya itu dikirim ke wilayah Indonesia, Ambon, sehingga menimbulkan kegemparan bagi kedua belah pihak yang bertikai kala itu (Belanda dengan Indonesia). 

Alasan dibawanya Louis van Krieken ke Ambon adalah karena polisi Belanda itu merupakan “surat hidup” dari Dimara untuk pemerintah Indonesia yang menyuruhnya masuk ke wilayah itu. Melalui “surat hidup” tersebut ia seolah-olah mengirimkan pesan khusus yang berisi, “Inilah hasil kerjaku untuk merah putih.” Selain itu, tindakan ini bertujuan untuk melindungi polisi Belanda dari kesalahpahaman yang mungkin terjadi jika kapal yang membawa Dimara bersama pasukannya diserang oleh pihak Belanda.

Namun kenyataannya, niat tulus Dimara disalahartikan oleh beberapa pihak, termasuk Indonesia sendiri. Dimara dituduh sebagai TNI yang terlibat dalam pemberontakan yang oleh polisi Belanda disebut sebagai ‘gerombolan’. Bahkan, tindakan Dimara ini tercatat dalam media cetak Harian Trompet Masyarakat pada 2 desember 1954. Harian tersebut memuat sebuah kolom kecil berjudul Di Irian Barat Benar Ada Pemberontakan. Berita yang dilansir Kantor Berita Antara mengutip pernyataan ketua Badan perjuangan Irian, Latumahina yang membenarkan adanya pemberontakan di Irian Barat.  

Meluasnya berita tersebut membawa Dimara pada nasib yang tidak baik. Ia diadili kemudian dibuang ke Digul dengan menyandang status sebagai tawanan dan mendekam di penjara Jayapura sampai Mei 1955. Kenangan pahit selama tujuh tahun yang dirasakannya baru selesai ketika ia dibebaskan dan kembali ke Ambon pada 1961.

Perjalanan panjang dan perjuangan pahitnya, mengantarkan Dimara menjadi anggota delegasi RI yang ditunjuk langsung oleh Presiden Soekarno ke Persatuan Bangsa-Bangsa dalam perundingan kembalinya Irian Barat ke Indonesia. Jasanya terhadap Indonesia tidak berhenti sampai di sini saja. Sekembalinya dari PBB, Dimara dipercaya sebagai ketua Gerakan Rakyat Irian Barat di Jakarta, dan menjadi anggota Dewan Pertahanan Nasional yang berhasil menyusun konsep Tri Komando Rakyat.

Perjuangan panjang dan kemenangan itu tak akan berhasil tanpa keteguhan, keuletan, dan kesabaran yang luar biasa dalam membebaskan Irian Barat dari kungkungan politik diplomasi yang ditunjang oleh pengerakan kekuatan militer. Sekaligus semangat yang terpatri dalam diri Johanes Abraham Dimara telah menjadikannya sebagai pejuang tangguh sekaligus pelaku sejarah. Yulia Eka Sari (dari berbagai sumber).

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.