Artikel » Kolom

Takut

Oleh: Putri Rahmi
Selasa, 09 Desember 2014 | 09:19:00 WIB Share
Takut

Takut: Putri Rahmi: Mahasiswa Sastra Indonesia 2012

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.” — Bung Karno

Manusia terlahir dengan berbagai rasa yang dimaktubkan Tuhan pada hatinya. Semacam hal yang telah dipaketkan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya, yang harus dikondisikan dengan situasi jiwa dan logika. Juga sebuah konsistensi sistematik yang diolah pikiran, kemudian masuk lewat pertimbangan jiwa yang luhur sehingga menghasilkan sebuah tindakan yang sesuai jalur kebenaran. Begitulah seharusnya cara seorang manusia dalam mengolah perasaannya.

Setiap insan di bumi ini sudah digariskan memiliki rasa takut. Rasa takut yang memang difitrahkan dan telah menjadi keputusan absolut. Seperti seperangkat alat yang dipasang ke dalam sistem komputer dengan central processing unit atau CPU menjadi otak kontrol dari semua cabang program software yang ada. Semua software tersebut akan bekerja sesuai kendali bila CPU bekerja dengan benar. Namun, bila CPU tersebut rusak, maka seluruh program akan ikut terpengaruh dan tertular kerusakan.

Seperti itulah manusia. Otak dan hati adalah CPU yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengontrol perasaan sedih, bahagia, benci, suka, berani, dan takut sebagai software-nya. Semua rasa yang diciptakan tersebut memiliki esensi tersendiri yang berarti bagi diri. Rasa takut akan bertransformasi menjadi sesuatu yang positif bila dikondisikan dengan kadar yang pas. Sebaliknya, rasa bahagia akan berubah menjadi kesedihan bila kadarnya yang tak terkendali.

Banyak hal yang dipertanyakan saat memilih dan menimbang. Rasa ragu-ragu, cemas, dan tidak percaya diri yang terlahir adalah sel-sel rasa takut. Sebuah contoh, mahasiswa pada dasarnya memiliki rasa takut yang sama bila tidak mampu bekerja setelah tamat kuliah. Ini memang suatu pemikiran yang naif dan kerdil, namun semua mahasiswa pernah berpikir demikian. Pangkal persoalan yang sebenarnya adalah ketakutan yang berlebihan.

Sesungguhnya persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ketakutan itu harus disingkirkan, yaitu dengan mengendalikan software  ketakutan yang ada di dalam diri. Salah satunya dengan berpikir positif. Berorganisasi, berdiskusi, dan berbagai kegiatan bertukar pikiran yang lain, serta menambah ilmu dengan memperbanyak membaca juga dinilai mampu mengurangi rasa takut dalam diri. Dengan begitu rasa takut yang menghantui diri dapat terkendali dan mampu mengurangi sel-sel yang dapat menyerang sistem CPU manusia.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.