Artikel » Refleksi

Degradasi Nasionalisme

Oleh: Neki Sutria
Selasa, 09 Desember 2014 | 09:15:00 WIB Share
Degradasi Nasionalisme

Degradasi Nasionalisme: Neki Sutria: Mahasiswa Pendidikan Kimia 2013

Mahasiswa diharapkan dapat bercermin pada pemimpin negara masa lalu, seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan para pejuang Indonesia lainnya yang memperjuangkan kebebasan Indonesia hingga merdeka pada 17 Agustus 1945.


Mahasiswa merupakan tulang punggung perubahan. Sebab, mahasiswa memiliki intelektual dan jiwa sosial yang lebih baik daripada orang lain yang tidak bergelar mahasiswa. Sehingga tanpa disadari mahasiswa memiliki peran penting bagi negara. Mahasiswa memiliki posisi yang strategis dan istimewa. Bahkan mahasiswa disebut-sebut sebagai agent of change atau agen yang akan membawa perubahan.

Mahasiswa merupakan harapan bangsa sebab semangat muda sedang tumbuh subur dalam jiwa mereka. Mahasiswa memiliki idealisme tinggi, kreatif dan inovatif, serta memiliki jiwa kritis. Selain itu, mahasiswa juga memiliki semangat nasionalisme, daya saing yang tinggi, dan mampu menguasai pengetahuan dan teknologi. Bahkan mahasiswa dianggap sebagai pewaris bangsa ini karena dinilai memiliki mental dan pemikiran dewasa dalam perubahan bangsa ke depannya. 

Mahasiswa yang sedari awal dibekali ilmu pengetahuan ini akan mampu dalam mengupayakan cita-cita dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Tidak mudah memang, dalam mengemban tugas dan tanggung jawab negara yang selalu berhadapan dengan masalah, hambatan dan rintangan, serta ancaman yang sedang menanti. Namun, mahasiswa bisa mengatasi hal ini. Jiwa nasionalismelah yang akan menjadi dorongan dan semangat mahasiswa.

Tetapi pada kenyataannya, saat ini, Indonesia seperti bangsa yang pengecut dan pecundang. Mahasiswa yang dibangga-banggakan sebagai harapan bangsa kini hilang dari keaktifan dan kepeduliannya. Mereka hanya disibukkan dengan tugas-tugas kuliah dan menjadi patuh karena tekanan perguruan tinggi dan pesan orang tua untuk cepat tamat kuliah. Mereka memiliki cita-cita yang terlalu egosentris, belajar dengan baik, mendapat predikat cumlaude, cepat lulus dengan segudang prestasi, lalu bekerja, nikah, punya anak, punya rumah yang besar dan bagus, kemudian tua dengan hidup nyaman tanpa gangguan. Kebanyakan mereka lebih memilih zona aman, tidak banyak berbuat, dan apatis.

Zona aman pada hakikatnya tidaklah nyaman. Ketidakbebasan dalam mempertahankan kenyamanan sama halnya dengan menciptakan penderitaan. Keluar dari zona inilah yang sulit bagi mahasiswa sekarang. Mereka tidak mampu lagi keluar dan melihat realitas bangsa ini dengan kaca mata tajam. Tak banyak lagi mahasiswa yang kreatif, memiliki nalar yang tinggi, dan mampu melawan keadaan yang salah di lingkungan mereka. 

Sumpah pemuda yang menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia pun diabaikan oleh kebanyakan mereka. Semangat pemuda yang lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, kini kian luntur akibat sejarah. Isi teks, dan maknanya tidak lagi diamalkan. Apabila diibaratkan pada gadget yang lemah baterainya maka perlu diisi untuk kembali menghidupkannya. Tidak jauh berbeda dengan hal itu, semangat mahasiswa yang sudah mulai lemah juga perlu diisi dengan kembali mengingat dan mempelajari perjuangan pemuda pada masa lalu. 

Mahasiswa diharapkan dapat bercermin pada pemimpin negara masa lalu yang memiliki nasionalisme yang tinggi, seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan para pejuang Indonesia lainnya yang memperjuangkan kebebasan Indonesia hingga merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Nasionalisme mereka tinggi karena perhatian terhadap negara juga tinggi. Perhatian mereka terhadap negara timbul karena cerdasnya pola pikir mereka untuk perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Dan kecerdasan mereka timbul akibat keaktifan mereka berada dalam forum-forum dan organisasi. Hal seperti inilah yang juga diharapkan ada dalam diri pemuda Indonesia sekarang agar nantinya dapat membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.


Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.