Artikel » Sastra dan Budaya/Resensi

Perang Pemikiran

Oleh: Khadijah Ramadhanti
Sabtu, 08 November 2014 | 09:51:00 WIB Share
Perang Pemikiran

Perang Pemikiran: Burung-burung Rantau: Y. B. Mangunwijaya

Judul : Burung-burung Rantau 

Penulis : Y. B. Mangunwijaya 

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

Cetakan : Agustus 2014 

Tebal : 406 Halaman 

“...betapa manusia adalah satu-satunya makhluk dunia yang serba kurang. Menghadapi burung dia tidak bisa terbang. Menghadapi ikan dia tidak bisa menang berenang dalam air. Berpacu dengan kuda dia kalah. Melawan badak dia lemah; kemampuan tubuh untuk dapat menembus tanah nyaris nol bila disuruh melawan tikus atau ular. Tetapi manusia punya otak, dan inilah yang dimanfaatkan sampai sel dan sarafnya setuntas mungkin....” (hal 238).

Sesempurnanya, manusia dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya, tetap saja manusia adalah makhluk paling rapuh. Perkara manusia, dengan beragam kerumitan yang menyertainya, kadang berujung pada konflik mendalam, gejolak batin, dan pertempuran pikiran. Namun di balik semua itu, manusia mempunyai akal dan budi, yang pada akhirnya akan membantu manusia itu keluar dari permasalahannya. 

Letnan Jenderal Wiranto, seorang mantan duta besar—juga gerilyawan 45, hidup dengan istri dan kelima anak-anaknya yang memiliki pemikiran bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Putri pertama mereka, Anggraini, sejak kecil sudah kentara watak dan nafsu kemandiriannya. Begitu juga dengan Wibowo, anak kedua yang berotak cemerlang, merupakan lulusan Sarjana Fisika Nuklir dan Astro-Fisika. Adiknya, Letkol Candra, seorang instruktur pesawat jet pemburu di Madiun. Selanjutnya Marineti, seorang Sarjana Antropologi dan sosiawati yang idealis. Serta si bungsu, Edi yang menempuh jalan pengganguran, juga seorang morfinis dan heroinis. Kelima saudara ini lahir dari generasi pascakemerdekaan. Mereka menjelajah dunia masing-masing dengan cara mereka tersendiri. Kelimanya merupakan burung-burung rantau yang seolah tidak lagi merasa terikat sebagai orang Indonesia. 

Di samping pertentangan pikiran yang sering mengudara, pun perselisihan berawal dari si bungsu Edi, yang jalan pikirannya tak pernah selaras, terutama dengan ayahnya. Berakibat pada ia memilih dunia gelap sebagai jalan hidupnya dan berujung kepada kematian. Salah satu dampak dari keinginan dan cara berpikir yang ditentang oleh sang ayah. Bukti bahwa ia tak menggunakan logika dan akal sebagaimana seharusnya. 

Burung-burung Rantau oleh Y. B. Mangunwijaya, menggambarkan tentang kedalaman pikiran-pikiran tokoh, yang sempat memicu konflik pada rumah tersebut. Meskipun demikian, peran pemikiran tersebut reda seiring waktunya. Perlu perjalanan panjang untuk sebuah pemikiran baru yang bermuara pada penyelesaian.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.