Artikel » Sastra dan Budaya/Puisi

KUMBANG SAYAP-BAGAI

Oleh: ROBBY W. RIYODI
Jumat, 07 November 2014 | 01:20:00 WIB Share

“Di reruntuh kelopak aku berteduh, kemudian mati serupa kumbang sayap rapuh!” 

Ia potong pergelangan sayap-bagai pasang kepada kumbang lelaki yang nikahi si pacar sebagai restu dan doa paling kabul. Lewat keping air mata sayap-bagai adalah sebuah solitude, genap kantuk juga akan sembuh olehnya. Dengan sayap-bagai tangan ia petik tujuh tangkai hujan untuk si pacar, ia sunting di lipatan tubuh satu-satu. tubuh baginya hanya sepotong kepala. Selebihnya ia tidak sebut apa-apa. Dengan sayap-bagai ia genggam sebuah purnama penuh, gelombang laut besar ia benam di jantung, kemudian hidup hanya berjalan antara nelangsa dan gelap baginya. 

“Hanya saja kumbang aku memadu, singgah di mekar mana saja kumau!”

  

Kumbang sayap-bagai malam dalam telepon genggam. Di kamarnya aku bersarang, menyimak pecahan-pecahan percakapan. Barangkali hanya tengkar yang tidak hiruk darinya. Serupa percakapan si tukang cerita dengan kekasih banyaknya, ketika ia lapar dan membujuk agar si pacar mengajaknya kencan dan membayar. Kemudian ia hadiahi sebuah prosa sederhana;

 “Kelak akan ku bangun sebuah rumah dengan jumlah pintu melebihi jendela, dan tiap pasak juga kuncinya kuserah padamu.” 

Ia adalah kumbang sayap-bagai gombal besar yang bangun ketika matahari tegak lurus. Kumbang nafsi. Kumbang yang belum lulus sekolah kumbang. Kumbang pembaca sastra. Sastra kumbang. Baginya waktu hanya memanjakan sepi dan tugasnya adalah menikmatinya. Sampai waktu benar menutup matanya sendiri.

Ia kumbang yang berkisah dengan sayap-bagai. Kumbang yang diam-diam aku menulisnya. Setelah si pacar yang sebenarnya tidak ia cintai lagi menikah. Dan aku teringat si tukang cerita yang memotong pergelangan tangan dan menghadiahkan potongan tangan kepada si pacar di hari pernikahan dalam sebuah cerita. Ia manusia bukan kumbang-bagai. Tetapi mau apa saja disebut, jangankan madu hendak di hisap, kelopak hanya menumbuhkan senyap, dan bunga akan tumbuh mekar di luar musim. 

Aku curiga ia-bagai si tukang cerita kumbang sayap-bagai ada.  

NOKTAH, SEPTEMBER 2014

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.