Artikel » Sastra dan Budaya/Puisi

BAK KUDA

Oleh: ROBBY W. RIYODI
Jumat, 07 November 2014 | 01:19:00 WIB Share

Waktu adalah pacuan dalam perut yang memberinya sepasang jarak antara hari lalu dengan kecut. Bak kuda masa kecil yang dipelihara utuh dalam ingatan. Bak kuda penurut dan Tuan palacak bak kuda pandai itu. Dahulu, ketika zaman masih ditunggang (ia kerap beranggapan bahwa usia adalah kitab). Di pekan Baso dua kali seminggu bak kuda nomor satu, larinya memacu petir tidak direm dan pandai melenggang meniru gadis-gadis menari di panggung atap bolong dengan derap yang meratap dari jarak yang hampir. Dari Padang Tarok melulu ia kekang kendali ke jalan lurus sekencang angin melenyapkan telapak zaman sebelah, mendongkak kakinya dari Ampuh ke Simpang Sangka ke Simpang Canduang dan simpang ketiga yang ia tandai sebagai kandang keduanya tempat ia belajar mengenal nama Tuhan, Tuhan seluruh kuda. Biaro pekan Rabu Sabtu adalah gelanggang pacuan hingga betis Marapi yang berwarna biru. Di mulut perasaian serupa gunung dihadapan dan pada beban selalu di tanggungkan sebuah pelukan bagai jantung putih yang dibungkus dalam dadanya. Berteduh ia di balai gelombang keempat yang turun menjadikan kota dan kabupatennya merah segar. Merah yang lebih nyala, merah daging orang muda. Dari rimbun batang Gurah, di batang perak pelerai segala suntuk, di balai rindang emas segala kutuk, bak kuda tahan lecut adalah bak kuda perut kosong yang alpa. Ia lupa sagu, jurai rumput-rumput gajah, daun baling-baling pucuk ubi, air terkepung daun keladi dan segala dedaunan yang hijau di mata kacamata bak kuda buta itu. Bak kuda berkata  “hei tuan palacak, kematianku adalah kepandaianmu itu!”.  Sekali beristirahat Bak kuda ingin mati. Sebab pundaknya yang rusak berat belum sempat di buat orang jepang atau cina, semenjak itulah urat-uratnya mulai dilipat. Dicuci, dan disetrika sebelum ditumpunya dalam sebuah laci di perutnya. Bak kuda hendak menjadi kerbau, ia berkehendak menjadi nama baru bagi negeri besarnya, tentu saja dengan tanduk yang  ia pesan pada pandai besi di sebelah kampung sipenunggang angan-angan. Serupa dalam omong orang tua ompong padanya. Bahwa negerinya terlahir dari pertarungan omong kosong. si penunggang angin dan segala penunggang ingin bak kuda kaki terkilir itu terlalu mengaduh sunyi padanya. Sehingga bak kuda berangan tidak sampai bak kuda terjatuh dan patah tungkai, ia  selesaiakan segala sakit dengan menyebut sebuah kematian akan bermula dari kaca mata bak kuda. 

“Hey tuan palacak, kematianmu adalah kepandaianku tentunya!” Bak kuda melacak penunggang pandai, bak kuda masa kecil ia mendongkak keluar dari ingatan.

RK SERUNAI LAUT, SEPTERMBER 2014

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.