Artikel » Sastra dan Budaya/Cerpen

Kasam

Oleh: Rio Rinaldi
Jumat, 07 November 2014 | 01:10:00 WIB Share
Kasam

Kasam: Karikaturis: oping

Tubuh yang kini terbujur kaku di atas rumah gadang itu adalah milik Tek Kiah. Orang-orang naik ke atas rumah, lalu duduk di sekitar mayat Tek Kiah. Ada yang terus membacakan Quran. Ada pula yang setengah berbisik. 

“Ke mana Si Niar tak tampak batang hidungnya. Padahal, Tek Kiah kakak kandungnya sendiri,” bisik Tek Siar pada Ni Suma. Tek Siar dan Ni Suma adalah karib sepesukuan bagi Tek Kiah. Kedua orang itu memang suka bergunjing. Malah, suami atau iparnya sendiri dipergunjingkannya juga.

“Entahlah, kita kan sudah sama-sama tahu, sejak perebutan sawah pusako itu, mereka tak lagi bersapaan,” sela Ni Suma berbisik sambil menutup mulutnya. 

Tak lama berselang, anak Tek Kiah yang dari rantau datang. Orang-orang di halaman berdiri menyambut kedatangan Harun dan Numi dengan penuh air mata. Yang pertama sekali menyambut kedatangan dua kakak beradik itu Pak Jorong dan Datuk Rajo Gadang. Pak Jorong lantas memapah Numi yang sudah melemas, naik ke atas rumah gadang. Sedangkan Datuak Rajo Gadang mengawal Harun yang berusaha tegar.

Tak tahan lagi, dua kakak beradik itu meraung tegang ketika dilihatnya tubuh ibunya yang sudah tertutup kain panjang. Orang-orang tak banyak bicara. Ada yang berusaha membujuk-bujuk, namun sia-sia. Mereka betul-betul sudah kehilangan junjungan. Kalau ada yang bertanya ke mana suami Tek Kiah, lelaki itu sudah lama tak pulang. Sejak puluhan tahun yang lalu malah. Mungkin juga sejak Harun dan Numi masih kecil. Mati pun lelaki itu sungguh tak tahu kuburnya di mana. Sesat pun tak tahu rimbanya di mana. Bagi mereka, ayahnya itu memang sudah mati. Kalau pun lelaki itu masih hidup sampai sekarang, mereka tetap menganggapnya sudah mati. 

Tengah hari pecah, lalu orang-orang memandikan jenazah Tek Kiah. Harun turut serta memandikannya. Sedangkan Numi dengan air mata yang tak kunjung reda, turut pula memandikan jenazah ibunya. Sesekali ia jatuh pingsang. Lalu orang-orang merebahkan dirinya di dalam bilik. 

Di perjalanan menuju pandam perkuburan yang melintasi rumah Si Niar, Numi berusaha tegar. Ia melihat rumah itu tertutup rapat. Terkunci. Jendelanya pun dirapatkannya. Orang-orang yang mengangkat keranda terus bertakbir dan melangkah semakin cepat. Numi yang dipapah kakaknya, Harun, mencela melihat rumah Si Niar. Betapa ibu-ibu yang turut pula mengawalnya mengalihkan pandangan Numi dari rumah Si Niar. Setelah jenazah Tek Kiah tertanam, Pak Jorong dan Datuk Rajo Gadang menasihati Harun dan Numi agar tetap tabah. 

Di perjalanan menuju pulang, tiba-tiba orang-orang yang berjalan berarak-arak terkejut. Sumi  tiba-tiba meronta. 

“Akan kubunuh kalian sekeluarga. Hutang nyawa dibayar nyawa. Sekarang kalian senang kan Ibuku telah mati? Aku sumpahi kalian mati terhina. Mati kalian! Mati!” bentak Numi di pekarangan rumah Si Niar yang sama sekali tak menampakkan tanda-tanda kehidupan di dalamnya. 

Harun sigap mencoba untuk menenangkan adiknya yang sudah tak terkendali lagi. Ia bawa adiknya pulang. Meskipun hatinya pun remuk redam. Kali ini semua luapan emosi Numi semakin membuncah. Beberapa orang pun juga berusaha membujuk Numi untuk pulang. Pak Jorong dan Datuk Rajo Gadang kembali memberikan nasihat pada dua kakak beradik itu di atas rumah gadang. 

Rumah gadang yang masih beraroma air mandi Tek Kiah itu kian sunyi. Pak Jorong dan Datuk Rajo Gadang membawa Harun bicara keluar rumah gadang. Sedangkan Numi mengurung diri di dalam bilik tengah.

“Jangan biarkan dia bermenung berlama-lama. Usapkan ini ke kening dan hidungnya kalau dia kembali berontak,” kata Datuk Rajo Gadang sambil menyelipkan bungkusan kain putih yang terikat. 

“Kalau butuh sesuatu datang saja ke rumah, anggaplah kami ini orangtuamu juga,” tambah Pak Jorong menghibur Harun. 

Lalu Pak Jorong dan Datuk Rajo Gadang pamit pulang. Maka, rumah gadang semakin terasa hening. Kesedihan Harun bertaut-taut dan semakin berlarut-larut, mengingat ia tak sempat pulang menemani ibunya yang terbaring lemas.  Selama sakit, hanya Tek Mi, sepupu kandung Tek Kiah, yang mengurusi sawah, mengurusi keperluan, dan mendengarkan keluh kesah Tek Kiah. Pernah Tek Kiah bercerita pada Tek Mi tentang sakitnya. Kalau sudah malam tiba, dadanya sesak, kepalanya terasa seakan mau pecah. Tek Kiah sempat pula bercerita pada Tek Mi tentang mimpinya bertemu Amak yang menyuruhnya berbaikan dengan Si Niar, adiknya.

Sedangkan Harun dan Numi, hanya mengirimkan uang seadanya dari rantau. Bagaimana tidak, kehidupan mereka saja di Pekanbaru pun tak bisa dibilang senang. Susah. Pelik. 

Malam ketujuh, orang-orang datang bertakziah ke rumah mendiang Tek Kiah. Kali ini Numi sudah mulai tampak tabah. Harun pun demikian. Ia sudah sedikit tenang sekarang. Kebiasaan orang di Kampung Tanjung Alam kalau bertakziah disediakan makan. Siang harinya, ibu-ibu sepesukuan membantu Numi memasak, sampai membantu menghidangkannya. Setelah selesai mendoa, orang-orang dipersilakan makan. 

***

Harun dan Numi tak mungkin berlama-lama di kampung. Sedangkan mereka sudah sepekan lebih izin bekerja. Kini, tibalah saatnya mereka pamit kembali ke Pekanbaru. Kepada Tek Mi mereka izin pamit. Mereka memesankan agar sawah tetap digarap Tek Mi dan suaminya Pak Sidi. Hasil panennya bisa dikirim saja. Tak lupa, mereka menyelipkan sedikit uang ke tangan Tek Mi sebagai rasa terima kasih.

Saat mereka hendak menunggu Pelita, bus yang akan mereka tumpangi di pinggir jalan, seseorang berteriak memanggil-manggil mereka dari kejauhan. Ada yang seperti menjemput mereka. Rupanya Si Pengkok, tetangga Si Niar. Harun menghampiri Si Pengkok, sedangkan Numi tetap berdiri di situ dengan Tek Mi sambil duduk menanti kedatangan Pelita yang akan menambang ke Pekanbaru. Dengan napas tersengal, Si Pengkok berbisik. 

“Si Niar sakit parah. Etekmu. Sekarang tak bisa bicara. Tak bisa bangun dari tempat tidurnya. Jenguklah dia sebentar. Dia terus menyebut-nyebut nama kalian,” bisik Si Pengkok yang masih tersengal-sengal. 

“Maaf, tidak bisa, sampaikan saja kami sudah berangkat ke Pekan.”

“Ada apa, Da?” tanya Numi penasaran. 

“Ah tidak, tidak ada apa-apa. Tunggu saja di sana,” sahut Harun berahasia.

“Pergilah, sebelum Numi mendengarnya. Sampaikan saja maaf kami,” kata Harun pada Si Pengkok. 

Benar saja, Pelita yang melaju dari arah atas berhenti tepat di depan mereka. Tek Mi membantu mengantarkan barang-barang mereka ke atas Pelita. Harun meninggalkan Si Pengkok dan segera menaiki Pelita yang sudah menantinya. Pelita berjalan dan mereka saling melambaikan tangan. Ketika Pelita sudah berjalan agak jauh, seseorang tiba-tiba datang lagi dari arah Si Pengkok tadi berlari, rupanya Si Pendi. 

“Mana Harun dan Numi?”tanya Si Pendi. 

“Ada apa, Pendi?” tanya Si Pengkok terkejut. 

“Si Niar sudah dulu.”

Share on:

Sastra dan Budaya/Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.