Artikel » Refleksi

Dewasa Dini

Oleh: Hera Gusmayanti
Minggu, 02 November 2014 | 14:04:00 WIB Share
Dewasa Dini

Dewasa Dini: Hera Gusmayanti: Mahasiswa Sastra Indonesia TM 2012

Tiada kesejukan yang tak menenangkan. Serupa anak yang sering membahagiakan. Mereka datang dengan segala bentuk keceriaan. Kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan dengan segala kompleksitasnya. Tidak seperti masa dewasa, saat kanak-kanak seseorang tidak punya beban pikiran. Yang terpikir hanya bermain. Sebab bermain itu menyenangkan. Maka tiada hari tanpa bermain. Demikianlah dunia kanak-kanak. 

Secara psikologis, masa kanak-kanak merupakan periode perkembangan dari bayi hingga usia lima atau enam tahun. Masa ini nantinya akan terus berlanjut sampai usia sekolah dasar sebelum beralih ke masa remaja. Anak yang sehat tumbuh secara bertahap, baik secara fisik maupun mental. Di masa inilah segala nilai-nilai, baik nilai agama, moral, sosial, dan nilai pendidikan akademik harus ditanamkan dalam diri setiap anak.

Begitu juga dengan anak Indonesia sebagai harapan dan masa depan bangsa. Jika anak Indonesia tumbuh dengan baik dan cerdas, maka baik dan cerdas pulalah bangsa ini ke depannya. Namun, jika anak tidak tumbuh dengan baik dan mentalnya rusak, maka hancurlah masa depan negara ini. Kiranya hal inilah yang sedang menghantui perasaan setiap orang tua saat ini. Mengapa tidak, melihat kondisi anak-anak Indonesia sekarang, terselip rasa khawatir dengan nasib bangsa ini ke depan.

Belakangan, masyarakat sedang dihebohkan dengan istilah “dewasa dini”. Dewasa dini merupakan keadaan saat seorang anak tumbuh lebih cepat, baik secara fisik maupun mental, melampaui usianya. Secara fisik anak-anak yang dewasa dini mengalami pubertas lebih cepat dari usia rata-rata, yaitu usia 10 tahun. Padahal normalnya usia pubertas anak adalah 13-14 tahun. Secara mental, keadaan ini sangat meresahkan. Anak Indonesia sekarang bersikap seperti orang dewasa. Hal ini terbukti dari banyaknya anak usia sekolah dasar yang sudah mengenal istilah pacaran, menyanyikan lagu-lagu cinta milik orang dewasa, bahkan yang lebih miris ada anak-anak yang kecanduan rokok dan video porno. Menyanyikan lagu cinta orang dewasa juga tidak pernah—waktu itu lagu anak-anak memang banyak tersedia. Dunia anak-anak dulu memang sebenar-benarnya dunia anak-anak. Namun kini, dunia tersebut tak lagi ditemukan.

Sesungguhnya fenomena-fenomena seperti itu memberikan dampak buruk bagi kualitas anak-anak Indonesia. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, terbukti bahwa semakin awal seorang anak memasuki masa pubertas, resiko mereka mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental juga semakin besar. Sedangkan, sebagian besar anak yang mengalami masa puber yang ‘normal’ tidak akan mengalami efek negatif tersebut.

Fakta ini membuka kembali mata kita bahwa betapa bahayanya fenomena itu untuk keberlangsungan eksistensi bangsa. Apa jadinya jika sebuah negara “melahirkan” generasi muda dengan yang mental tidak sehat. Tentunya harapan akan ide-ide briliant dari generasi tersebut menjadi isapan jempol belaka. 

Sudah sepatutnya perhatian terhadap dunia anak-anak lebih ditingkatkan. Sebab pengawasan tumbuh kembang anak merupakan kewajiban bersama. Karena apapun ceritanya proses pertumbuhan mereka adalah hal terpenting. Jangan sampai sang generasi muda lebih dulu rusak sebelum sempat tumbuh, bercita-cita, apalagi berkarya.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.