Artikel » Kolom

Bermula dari Kesalahan

Oleh: Resti Febriani
Minggu, 02 November 2014 | 13:52:00 WIB Share
Bermula dari Kesalahan

Bermula dari Kesalahan:

“Suatu kesalahan tidaklah menjadi kesalahan, kecuali Anda menolak untuk memperbaikinya”. — Orlando Aloysius Battisa

Sesuatu yang salah harus dibenarkan. Tetapi yang menjadi permasalahannya, apakah mudah mengubah yang salah menjadi benar? Jawabannya tentu tidak. Untuk hal yang dinilai salah akan menjadi benar jika secara perlahan diubah dengan berbagai tindakan yang mengarah pada hal yang benar. Atau istilah lainnya perbaikan.

Perbaikan tidak hanya dilakukan pada material fisik saja, seperti peralatan rumah tangga, gedung, dan sebagainya. Pribadi seseorang juga perlu perbaikan. Manusia memang awalnya diciptakan tanpa beban hidup. Tetapi, dengan segala perjalanan yang dilalui sepanjang hidupnya pasti akan menemukan suatu masalah dan menciptakan beberapa kesalahan—meskipun sejatinya tak ada yang menginginkan terjadi kesalahan dalam hidupnya. Lalu, apa jadinya jika seseorang tidak melakukan perbaikan setelah melakukan kesalahan? Tentunya akan menjadi terbiasa untuk menciptakan kesalahan lainnya.

Contohnya dalam hal mengerjakan tugas bagi kalangan mahasiswa. Alangkah baiknya jika tugas tersebut dikerjakan beberapa hari sebelum dikumpulkan. Namun, kebanyakan mereka baru akan mulai mengerjakannya sehari sebelum dikumpulkan atau malam harinya. Terkadang, mahasiswa terbiasa mengulur waktu, melakukan sesuatu saat mendekati deadline. Jika belum deadline, maka tugas tersebut belum akan dikerjakan, bahkan diabaikan. Apakah ini akan menjadi tradisi yang dibiarkan mendarah daging? Mari kita renungkan kembali. 

Kebiasaan yang buruk tersebut bisa menciptakan kesalahan yang tak terlihat karena hanya memiliki pengaruh kecil. Seperti, tidak selesainya kewajiban pada waktu yang telah ditetapkan. Namun, jika hal ini terus berlanjut, maka akan menimbulkan masalah dan berujung pada kesalahan yang lebih besar. 

Sekarang, hal tersebut mungkin masih bisa dimaklumi. Barangkali, masih dianggap wajar karena masih dalam gejolak jiwa muda. Namun, jika hal seperti ini terbawa hingga ke dunia kerja, bisa jadi dalam jangka waktu tertentu akan merugikan perusahaan. Dan tak menutup kemungkinan akan bermuara pada pemberhentian karena dianggap lalai.

Kita sering memandang sepele kesalahan-kesalahan kecil. Tapi  bagiamanapun juga hal itu tetap saja sebuah kesalahan. Dan pada hakikatnya semua tahu—barangkali juga mengerti—bahwa kesalahan kecil jika terus dibiarkan akan terus berkembang dan membesar hingga tak mampu lagi untuk mengatasinya.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.