Artikel » Sastra dan Budaya/Catatan Budaya

Kapal

Oleh: Suci Larassaty
Minggu, 02 November 2014 | 13:45:00 WIB Share

Bocor kecil bisa menenggelamkan kapal yang besar. — NN

Seabad yang lalu, pernah dalam sejarah tercatat bahwa sebuah kapal super mewah dan istimewa pada eranya, tenggelam di perairan Atlantik Utara. Kapal itu RMS Titanic. Badan kapal sengaja dibuat dengan baja yang kuat sehingga mampu melawan guncangan badai. Selain itu, kapal juga dirancang khusus agar dapat berlayar tanpa tenggelam—meskipun 4 kompartemennya bocor. Namun apa mau dikata, RMS Titanic tetap tenggelam setelah menabrak gunung es dan menewaskan 1.514 dari 2.224 penumpang.

Kiranya, peristiwa tersebut dapat dijadikan pelajaran. Kemewahan dan kekuatan belum tentu bisa menjamin sebuah keselamatan. Sebagus dan sekuat apapun kapal, tetap saja akan tenggelam jika ada bagian komponennya yang rusak. Sebuah kapal akan berlayar baik bila semua yang berada di dalamnya merasa siap untuk menerjang berbagai rintangan selama perjalanan. Nahkoda yang baik belum tentu dapat menyelamatkan kapal tanpa bantuan awak kapal dan penumpang. Sebuah kapal akan berlayar dengan baik bila semua ikut berperan dan menjaga dalam perjalanan. Mampu bertahannya sebuah kapala di perairan tidak dapat diukur dari kemewahan yang dimiliki, melainkan dari kemampuan semua awak yang terlibat dalam menakhodainya hingga sampai ke tempat tujuan.  

Dalam sebuah pelayaran, banyak sekali tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Seorang nahkoda sebagai pemimpin pelayaran harus peka terhadap semua bahaya yang mungkin akan ditemui dalam perjalanan. Misalnya, bahaya navigasi (kandas, drifting, cuaca buruk), tubrukan, pencemaran, kebakaran, kecelakaan, dan lain-lain. Nahkoda bertanggung jawab untuk membawa seluruh awak dan penumpangnya ke tempat yang dituju dengan selamat.

Demikian juga halnya dengan kepemimpinan, sebuah negara dapat diibaratkan sebagai kapal. Seorang pemimpin bertanggung jawab atas negara yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang peka dan tanggap terhadap hal-hal yang dapat merusak bagian negara. Rusaknya suatu bagian negara akan berpengaruh terhadap bagian lainnya. Dan bila sudah banyak bagian dari negara yang ikut rusak, maka kehancuran akan semakin dekat. Oleh sebab itu, agar dapat terhindar dari kehancuran, bagian negara yang rusak tentu harus diperbaiki terlebih dahulu. Di sinilah ketanggapan sang pemimpin dibutuhkan. 

Namun, nasib sebuah negara tidak bisa diserahkan kepada pemimpinnya saja. Sebuah negara bergantung pada seluruh komponen yang ada di dalamnya. Bagian-bagian tentu tersebut menjadi sebuah sistem yang kuat dan kokoh bila semua bagiannya dapat bekerja sama dengan apik. Kehebatan seorang pemimpin akan luntur jika anggota yang ada di dalamnya tidak bisa saling membantu dalam bekerja sama. Negara yang hebat tidak hanya karena memiliki seorang pemimpin yang hebat. Tapi negara hebat adalah negara yang semua elemennya bersatu untuk mewujudkan suatu tujuan. 

Seperti halnya kapal, sebuah kapal akan oleng jika tidak ada keseimbangan. Seperti itulah sebuah negara dan kepemimpinan. Sebuah negara akan hebat bila masyarakat yang ada di dalamnya dapat satu suara menggapai satu tujuan.

Share on:

Sastra dan Budaya/Catatan Budaya lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.