Artikel » Feature

Misteri Hilangnya Si Pora-pora

Oleh: Meri Susanti
Minggu, 02 November 2014 | 12:59:00 WIB Share
Misteri Hilangnya Si Pora-pora

Misteri Hilangnya Si Pora-pora: Danau Toba: Untuk mendatangkan kembali pora-pora di perairan Danau Toba, pemerintah berupaya membuatkan kawasan penangkaran di beberapa muara sungai di kawasan Danau Toba, Medan, Sabtu (27/9).f/Doc.

Pernah dalam sejarah kehidupan, mereka mencapai kejayaan. Menikmati limpahan rahmat Tuhan. Kemudian hilang tergerus waktu. Sekarang tak lagi pagi, sore telah menjelang, untuk menjemput malam.

Sebuah pagi di penghujung September 2014. Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, masih hidup dalam dimensinya. Oleh sebuah jalan takdir yang pernah dilewatkan melalui peran Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara, mengantarkan warga setempat pada nasib masing-masing. Pada 2003 lalu, sebanyak 4.500 benih ikan bilih  yang diangkut dari Danau Singkarak, Sumatera Barat, ditabur dan dikembangbiakkan di Danau Toba yang kemudian diberi nama pora-pora.

Terhitung dari tahun 2005-2008, perairan tempat bermuaranya sebanyak 191 sungai ini, si pora-pora berkembang dengan pesat—melimpah ruah. “Saking banyaknya, ikan-ikan tersebut menyambangi kita saat mendekatinya,” terang Ramlan Tampubolan, pengusaha pora-pora bernostalgia dengan masa lalunya. 

Saat berburu keterangan kepada pengusaha dan nelayan pora-pora, teras Mes Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, seketika ramai oleh pergiliran tanya jawab terkait misteri hilangnya pora-pora di perairan yang memiliki panjang 100 km dan lebar 30 km ini. Dengan tawa yang tertahan, Ramlan mencoba mengurai cerita, masih tentang kejayaan masa lalu yang kini tinggal kenangan. Seketika ada gurau yang sulit dilupakan, lalu sesal menyeruak di antaranya.

Dalam canda yang masih mencoba membangunkan kenangan, tentang produksi melimpah dan tentang roda perekonomian yang bergerak dengan pesatnya. Waktu itu, sebagai pengusaha pribumi penggagas crispy pora-pora. Dengan usaha yang dirintisnya, harga jual pora-pora meningkat dari Rp500-Rp1.000 per kg menjadi Rp4.000 per kg. Hingga membuat semua kalangan diuntungkan dengan keberadaan pora-pora, bahkan mencapai titik kepuasan tertinggi. “Umpamanya, sekali kirim bisa dapat setumpuk emas,” jelas Ramlan.

Dalam nostalgia memoar tersebut, seorang perempuan yang juga pernah merasakan jayanya menjadi seorang nelayan ini pun ikut berkisah. Adalah Siska Neggolan, seorang ibu yang memiliki delapan orang anak ini dulunya merupakan seorang penangkap ikan. 

Diakui Siska, pengambilan ikan pada masa lalu memang dalam jumlah besar, mencapai 50 kg dalam satu jala dan hampir seluruh warga terlibat dalam partisipasi ini. “Bayangkan saja, berapa banyak ikan yang mereka keruk jika punya banyak jala,” sesalnya.

Serta, beberapa isu alam lainnya turut menyeimbangi sesal yang terpancar. Masih ada beberapa hal yang menguap ke permukaan sebagai deret akibat penyebab hilangnya pora-pora. Ikan bawal sebagai predator pun menjadi alasan tersendiri bagi warga, namun hal tersebut belum pasti adanya. 

Tentang keberadaan PT Aquafarm, bagi mereka, perusahaan budidaya ikan nila penanaman modal asing dari Swiss ini tak ikut mencemari Danau Toba. Sehingga tidak ikut menjadi dalang penyebab hilangnya pora-pora. “Bahkan, menguntungkan dengan merekrut banyak tenaga kerja,” terangnya lebih lanjut. 

Kepala lurah daerah Ajibata, B. Doloksaribu, S.H., dengan terang-terangan mengakui keterlambatannya dalam mengatasi pengerukan berlebihan pada pora-pora ini. Bahkan nelayan mengeruk hingga 100 ton per hari, terutama di tiga titik penghasil pora-pora terbesar, yaitu Samosir, Toba Samosir, dan Simalungun.

Isu pencemaran yang disebabkan oleh perusahaan raksasa milik Swiss pun menjadi penolakan tersendiri baginya. Menurutnya, PT Aquafarm tak ada sangkut pautnya dengan hilangnya eksistensi pora-pora. “Kalau pun iya, kita harus berbuat apa?” pasrahnya.

Untuk membangkitkan masyarakat dari keterpurukan, pemerintah telah berupaya memberikan pelatihan pengolahan hasil tangkap Danau Toba serta berbagai penyuluhan mengenai pemanfaatan kekayaan alam sekitar Danau Toba. 

Walau misteri di balik hilangnya eksistensi sang primadona Danau Toba ini belum terpecahkan, pemerintah terus berupaya untuk mengembalikan pora-pora ke tengah kehidupan ekonomi masyarakat. Dengan pertimbangan ke depan, agar masyarakat mampu memerangi nafsu dalam pengeksploitasian pora-pora. Karena bagaimana pun, masyarakat tak boleh hanya memikirkan kepuasan hidup sesaat dan bersama untuk saling menjaga agar pora-pora yang tersisa tidak benar-benar menghilang dari perairan Toba ini.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.