Artikel » Sastra dan Budaya/Cerpen

Portulaca

Oleh: Ariyanti
Rabu, 15 Oktober 2014 | 15:44:00 WIB Share
Karikaturis

Karikaturis: Oping 

Aku telah benar, aku masih benar, dan aku selalu benar. Dengan demikian, aku telah hidup dan aku akan dapat hidup dengan cara lain.*

Sudah sewindu kami berjanji untuk tidak lagi saling peduli. Ketika Tuan memutuskan untuk pergi, ia membuka sekaligus menutupnya dengan percakapan asing. “Karena bagi kalian bertiga, saya akan selalu menjadi tokoh yang salah.”

Aku diam saja.

Aku dengan segala keberuntungan dan kesialan yang ada, menoleh lurus pada siaran televisi yang semakin samar di telinga dan mata. Aku lupa tanggalnya, tapi aku ingat warna mataharinya, aku ingat karena ia seperti pagi yang tidak siap dengan siang cerah, sehingga angin yang ada terdengar begitu gelisah.

“Apa aku harus meralat kata selamat pada tinggal?”

Aku pikir aku akan bahagia. Karena separuh dari yang Tuan sisakan adalah penderitaan, melepasnya pergi, aku pikir aku akan berbahagia. Aku pikir aku akan berbahagia.

***

Tuan adalah kelelawar kesepian. Ia tinggal sekenanya dan pergi seenaknya di atas pohon yang adalah ibuku. Aku tidak perlu bicara banyak tentang tabiat kelelawar, ia pergi dan tinggal untuk dirinya sendiri. Aku juga tidak marah ketika seseorang sibuk dengan dirinya sendiri, kebebasan untuk berbahagia sendiri juga mengalir dalam darahku, darah kelelawar yang sama sekali tak kesepian dengan kesunyian.

Aku adalah Klio, ibu mengatakan aku seperti tumbuhan Portulaca. Karena aku lahir dari sebatang pohon dan seekor kelewar yang kesepian, namun tumbuh menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang berbeda. Walaupun nyatanya aku selalu menolak disamakan dengan Portulaca. Sama sepertihalnya aku menolak lahir dari seekor kelelawar.

“Ibu tau apa yang semut-semut itu bicarakan tentang kita?”

 Ibuku mengerakkan dahannya ke arah selatan

“Untuk apa kita peduli?” katanya

“Aku sampai lupa bagaimana caranya berharap dengan normal, Bu”

“Untuk apa menjadi normal?” ketus Ibu yang selalu sibuk.

Konon ia memang tak pernah punya waktu untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaanku. Ia tidak suka membuang waktunya sia-sia. Menurutnya pertanyaanku adalah salah satu wujud kesia-siaan.

Satu-satunya hal yang tidak membuang waktunya adalah ketika ia mengatakan dengan seksama mengenai orang-orang yang disebut teman. Kalian sebut ini nasihat, bahwa ibu tidak suka ketika aku memiliki teman. Menurutnya, teman bagiku adalah wujud kesialan. “Satu-satunya kesialan yang kita miliki adalah percaya pada seorang teman, Yo. Jangan pernah berikan siapapun kepercayaan, mereka akan membuatmu sial!”

Ibu selalu mengulang petuah yang sama setelah aku bertemu Musae. Padahal Ibu tidak tau, ibu sungguh tidak tahu bahwa aku dan Musae bukanlah teman. Kami sama sekali tidak berteman. Kami sama sekali tidak memiliki persamaan.

Aku sudah terpelajar untuk tak berharap banyak pada harapan, sedangkan Musae dibesarkan dengan harapan.

“Aku liyan yang lain,” kata Musae pada suatu sore.

Bagiku, Musae tumbuh seperti diktum klasik. Bahwa kesalahan yang terus-menerus sengaja diulang, lama kelamaan akan diterima menjadi kebenaran. Ia diajarkan menaruh harapan pada hal-hal mustahil  sekalipun. Sepertihalnya ia berharap banyak pada tetesan air pertama pada saat turun hujan.

Iya, menurutku percaya pada harapan adalah kesalahan Musae yang terus-menerus diulang.

Perilaku liyan yang lainnyalah, yang membuat Ibu melarangku mengunjunginya. Sedangkan hutan gelap, tempat yang aku sebut rumah sudah terlalu lama membosankan semenjak Tuan berubah menjadi kelelawar kesepian.

***

Siapa yang mau bersusah payah peduli pada butiran air mana yang jatuh terlebih dahulu ketika hujan? Bukankah hujan adalah hujan ketika butiran airnya turun bersamaan?

Musae. Ia selalu percaya bahwa akan ada butiran pertama yang lebih dulu jatuh. Tidak peduli seberapa hebat hujan deras dengan butiran air mengguyur secara bersamaan, Musae-dengan kesalahan yang selalu dimilikinya- percaya, akan ada setitik butiran air paling hebat diantara koloni butiran lainnya diantara hujan yang akan menerpa tanah paling pertama.

“Seperti kompetisi, Yo! Ingat saja ini seperti seperti kompetisi.” kata Mu.

Entah setan mana yang menggerayangi pikirannya, ia menamai butiran yang tak pernah ia temui tersebut sebagai pengharapan pertama. Dan kita kemudian tahu, Musae adalah pemburu butiran pengharapan pertama. Dan Musae tidak pernah tahu, butiran pengharapan pertama yang diharapkan  Musae adalah gabungan antara kesia-siaan yang aku miliki dengan kesalahannya yang terlalu banyak berharap pada harapan.

Hingga suatu hari aku percaya, Aku dan Musae ternyata hanya disatukan oleh satu hal; kemalangan.

***

Aku memperhatikan Musae dari hutan gelap. Ketika awan hitam berat membawa butiran pertama yang ia harapkan, Musae adalah orang pertama yang keluar mengadahkan kepala menantang langit. Wajahnya adalah pendar sinar matahari, biasnya memantul jauh hingga memasuki hutan tergelap sekalipun. Ketika Musae menikmati hujan, aku menikmati pendar-pendar cahaya yang ia biaskan pada rumahku, sinar terang yang dingin memasuki hutan gelap.

Suatu malam yang aku lupa bulannya, Musae menarik keras tanganku keluar, ia mengatakan bahwa kami harus menjadi yang pertama melihat butiran pengharapan jatuh. Musae tidak peduli ketakutanku akan suara rusuh yang diciptakan langit, kegilaannya dengan harapan yang sia-sia itu, adalah satu dari banyaknya hal yang menjadi alasan, kami tidak seharusnya berteman.

“Kita akan beruntung Yo!” teriakmu di sela-sela guntur yang hebat.

“Perhatikan sekitar, perhatikan juga awannya! ketika butiran pertama itu jatuh, kita harus bergegas kesana. Kita harus menginjaknya, lantas berdo’a agar disana juga akan tumbuh harapan kita. Kita harus berdo’a lebih keras hari ini !”

“Kita akan beruntung…..!” Musae teriak seperti orang gila. Sedangkan aku berusaha mencerna apa maksud dari kata kita.

***

Aku adalah kejauhan. Kau sebut ini kesunyian. Aku adalah kejauhan. Kau sebut ini kesepian. Tentang Tuan, aku pikir akan menyukainya karena aku tidak begitu mengenalnya. Untuk alasan itu, kadang aku harus tetap menjauhinya, begitu saja, hanya agar aku tetap bisa menyukainya.

Aku dan Tuan diciptakan layaknya kutub magnet. Tuan adalah selatan,  aku adalah utara. Dia mengajarkan aku harapan, aku kemudian tumbuh sebagai pemberontakan. Tuan aku anggap sebagai tuntutan tak terelakkan, penanggung semua kesialan, dan setengah sadar, aku ternyata selalu memikirkannya justru ketika aku membencinya.

Aku adalah kejauhan. Menghindari percakapan-percakapan panjang, menghindari lagu-lagu sendu, menghindari epidemi patah hati di pasaran. Menyembunyikan rona kesedihan dalam hutan, menyimpan beberapa kenangan sebagai akar agar tetap bertahan. Aku adalah sisi-sisi berlawanan dengan tekanan-tekanan yang mungkin sial, mungkin menakjubkan. Tak lupa dengan bergelimang bentuk pengkhianatan yang juga menakjubkan.

Aku adalah kadang-kadang. Kadang-kadang baik, kadang-kadang buruk, dan sepenuhnya adalah asing.

Dan dengan sisa kejeniusan yang diberikan Tuhan, aku telah dengan telaten memilah dan memisah kenangan mana yang pantas dan yang patut untuk diingat. Dan dia adalah masa kecil, dia adalah sebagian dari anda, Tuan.

Bukankah sudah kukatakan bahwa aku ini jenius? Dalam hutan gelap aku melindungi satu-satu hal berharga yang dapat kubongkar kapan saja, satu-satu yang serba sedikit, serba bermakna, serba langka karena terlalu sederhana. Namanya, Musae. Namanya Tuan dan kenangan.

***

“Tak bisakah kau anggap saja dia tamu! Tak bisakah kau berbaik hati sedikit pada tamu?” Ibu membentakku suatu pagi ketika aku berusaha mengusir kelelawar dari hutan.

Iya, seluruh yang datang dalam hidupku agaknya adalah tamu, beberapa orang datang membawa kesedihan dan kebahagiaan. Tuan datang dengan kebahagiaan, tinggal sebentar dengan kesedihan, dan harus pergi untuk kebahagiaan. Musae datang sebagai harapan, dan harus pergi untuk kenangan.

Perlu waktu lama bagiku untuk sadar, bahwa harapan pada tetesan hujan pertama Musae adalah seorang ayah yang tak kunjung pulang. Ibu mengatakan bahwa ayah Musae pergi ke laut dan tak pernah kembali. Ibu kemudian takut, kalau-kalau aku menukar kelelawar kesepian yang kami punya dengan sedikit harapan pada Musae. Ibu takut,  kalau-kalau aku terlalu baik untuk memberikan kelelawar pada Musae hanya agar aku memiliki sedikit harapan, satu hal yang tak pernah aku miliki.

***

Sekarang Tuan adalah kejauhan, dan Musae menjelma tanda tanya. Aku kemudian memiliki Musae dan Tuan sebagai kenangan. Aku dan Musae memang tidak pernah beruntung pada setiap hujan, karena aku dan Musae tidak pernah menemukan butiran pertama yang Musae impikan.

“Bagaimana jika nasib adalah kesunyian masing-masing, dan kita tidak diperbolehkan berbagi nasib?” Musae pergi meninggalkan pertanyaan ganjil itu pada guratan-guratan pohon di dalam hutan, tempat dimana Tuan biasa menghabiskan kesepian.

Lantas ketika Musae dan Tuan pergi, aku memiliki ritus untuk selalu membagi tangis bersama hujan. Karena aku tahu, Musae dan Tuan tidak begitu pintar membedakan mana yang air mata dan yang mana air hujan.

***

Bagaimana aku harus mengakhirinya. Bagaimana jika kalian akan kecewa bila cerita ini tidak akan pernah akan kalian lihat di depan mata? Bagaimana bila cerita ini tidak akan pernah kalian dengar pada sepasang telinga? karena beberapa orang akan takut pada ketidakpastian seperti Klio. Beberapa orang akan sedikit merasa bersalah, sedikit kasihan, sedikit berpura-pura peduli lantas buru-buru pergi. Mereka tidak akan mau terlibat terlalu lama dalam cerita yang tidak pasti.

Iya, Tuan dan Musae masih terperangkap di hutan gelap dalam kepala, di belakang mata. Sedangkan Klio masih, selalu, dan adalah tanda tanya. Bagaimana Klio akan menjawab tanya penasaran bila ia sendiri adalah pertanyaan?

Bagaimana aku harus mengatakannya, bahwa aku  menulis cerita ini bersama teh yang terlanjur dingin dan segurat luka di kepala. Bisakah kau percaya bahwa aku menceritakan ini, ketika sedang sakit kepala? Atau aku saja yang mungkin lupa, bahwa aku sebenarnya tidak pernah tidak sakit kepala.

Bagaimana aku harus mengatakannya, bahwa aku sudah menukar kelelawar kesepian demi setitik harapan. Musae-yang bukan temanku- pergi membawa kelelawar kesepian, yang bukan lagi tamuku. Musae memberikanku satu-satunya harapan yang ia sisakan. Aku sekarang memiliki harapan dan Musae memiliki kelelawar kesepian. Lalu aku pikir aku akan berbahagia. Memiliki harapan, aku pikir aku akan bahagia.

Bagaimana aku mengatakannya. Bahwa Klio bukanlah tokoh utama yang protagonis. Ia terlalu sinis, dan beberapa pilihan harus ia ambil dengan egois. Ia adalah wujud Portulaca yang sama sekali tak manis. Ia bahkan menukar ayahnya sendiri agar ia dapat memiliki harapan.

Iya, aku adalah Portulaca yang selalu merasa benar. Aku adalah Portulaca yang tak tumbuh di taman. Aku portulaca yang tumbuh dalam hutan gelap.

Share on:

Sastra dan Budaya/Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.