Artikel » Sastra dan Budaya/Catatan Budaya

Parfum

Oleh: Novi Yenti
Senin, 29 September 2014 | 17:10:00 WIB Share

Siapa yang tidak tahu dengan parfum. Parfum sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Salah satu kegunaan parfum tertua seperti pembakaran dupa dan herbal aromatik dalam pelayanan keagamaan. Walau bentuknya belum seperti parfum yang kita kenal, parfum sudah mulai dipakai pada ratusan tahun sebelum masehi sebagai pewangi tubuh orang-orang yang dihormati.

Di masa lalu perkembangan parfum justru terjadi di wilayah timur. Mulai dari Timur Tengah sampai Asia sebagai bagian dari seni oriental. Saat itu parfum mulai digunakan secara lebih meluas di kalangan bangsawan dan orang-orang terhormat. Lalu pada abad ke-13 sekitar tahun 1200-an, pasukan Perang Salib (Crusader) memboyong teknologi parfum dari wilayah Palestina kuno ke Inggris dan Prancis.

Benda yang sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu ini terkenal dengan aromanya membuat sang pengguna menjadi wangi. Semakin banyak parfum digunakan untuk badan semakin kuat aroma yang akan dikeluarkan. Tentunya akan lebih mudah pula tercium oleh indra pembau manusia.

Parfum kadang menjadi kriteria penilaian terhadap psikologi seseorang. Misalnya seseorang gemar menggunakan parfum beraroma melati. Akan dapat diketahui sifat orang tersebut dari jenis aroma parfum yang digunakannya. Namun ada pula yang mengatakan parfum sebagai interpretasi dari bentuk kesombongan. Tetapi hal ini perlu diverifikasi lagi. Sebab parfum merupakan kata benda, sedangkan sombong merupakan kata sifat.

Berkaitan dengan sombong, semua manusia berpotensi memiliki sifat sombong. Sombong merupakan kondisi seseorang yang merasa bahwa dirinya paling unggul dan orang lain wajib tahu degan hal itu. Agar keunggulannya diketahui, tentu dibutuhkan media sebagai penyalur. Membicarakan apa yang dimiliki merupakan salah satu cara untuk menyalurkan kesombongan. Semakin banyak berbicara, semakin banyak pula orang tahu tentang kehebatan dan keunggulannya.

Bagi orang yang sombong, hal ini akan memberi kepuasan tersendiri. Semakin banyak yang tahu keunggulannya, akan semakin gigih pula dia menyuarakan kelebihannya. Jika dikaji kembali, memang cocok bila parfum dijadikan refleksi dari sifat sombong manusia.

Bila dianalogikan, kapasitas penggunaan parfum bisa dijadikan tolak ukur kesombongan seseorang. Semakin banyak parfum digunakan, akan semakin cepat orang lain menangkap aroma dari si pengguna parfum. Demikian juga dengan kesombongan tadi. Semakin banyak seseorang memamerkan keunggulannya, semakin cepat orang lain tahu apa yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin sedikit seseorang menggunakan parfum, semakin sulit pula mengetahui apakah orang tersebut memakai parfum atau tidak. Bahkan kita baru akan mengetahuinya setelah dekat dengan orang tersebut.

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tidak sombong. Sebab sikap sombong senantiasa akan menyebabkan masalah di dalam kehidupan. Selain itu sombong akan membuat seseorang semakin dekat dengan kekufuran. Biarlah orang lain mencari tahu sendiri keunggulan kita, tanpa harus susah-susah memamerkannya. Dan sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 23, "... Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong."

Share on:

Sastra dan Budaya/Catatan Budaya lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.