Artikel » Sastra dan Budaya/Resensi

Foto Jurnalistik dan Maknanya

Oleh: Sri Gusmurdiah
Senin, 29 September 2014 | 17:00:00 WIB Share
Foto Jurnalistik

Foto Jurnalistik: Taufan Wijaya 

Judul              : Foto Jurnalistik

Penulis            : Taufan Wijaya

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : I, Juni 2014

Tebal              : 168 Halaman

Sebuah dilema yang besar mungkin. Ketika seorang jurnalis foto dihadapkan pada dua pilihan yang sulit antara mengambil foto dengan momen langka atau menolong orang yang menjadi objek fotonya. Si jurnalis pasti akan berpikir berulang kali. Memilih tindakan apa yang paling tepat. Tetap memotret atau menyelamatkan si objek.

Memang benar, meninggalkan momen langka sama dengan membuang kesempatan emas. Sehingga seorang fotografer sekelas Kevin Carter memilih untuk tetap memotret dan tidak menyelamatkan objek fotonya. Saat meliput kelaparan yang melanda Sudan, jurnalis foto lepas yang bekerja untuk kantor berita Reuters dan Sygma Photo New York ini memilih untuk tetap memotret seorang bocah yang tersungkur kelaparan daripada menolongnya. Padahal di belakang si bocah ada seekor burung bangkai yang siap memangsa.

Foto hasil jepretan tersebut kemudian dimuat dan memperoleh penghargaan Pulitzer. Namun saat menerima penghargaan di New York pada 23 Mei 1994, Carter mengaku sangat menyesal dan berpikir telah mengambil keuntungan dari penderitaan si anak. Karena ia membayangkan anak yang ada di dalam fotonya telah dimangsa oleh burung bangkai. Akhirnya, dua bulan kemudian Carter bunuh diri di Johannesburg, sebelum sempat mengetahui bahwa si anak telah selamat ditolong relawan.

Sulit untuk memutuskan apakah tindakan Carter benar atau salah. Tapi yang pasti, foto hasil jepretannya tidak sia-sia dan mampu merubah kondisi Sudan pada saat itu. Relawan berdatangan membantu masyarakat Sudan dari kelaparan. Sejatinya, foto jurnalistik dalam misi kemanusiaan jauh lebih berperan dibanding sekadar menolong korban menggunakan tangan secara langsung. Sama halnya seperti foto-foto bencana Tsunami Aceh 2004 dan erupsi merapi di Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2010. Mampu menggugah solidaritas berbagai masyarakat dari dalam maupun luar negeri untuk membantu.

Foto jurnalistik pada dasarnya tidak sekadar menceritakan suatu kejadian menit per menit, tapi foto jurnalistik mampu mengabadikan satu rekaman dua dimensi yang mengandung elemen yang diperlukan oleh pembaca untuk memahami kejadian keseluruhan peristiwa. Baik dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik, maupun menjemput sejarah yang tak termakan waktu. Foto jurnalistik tidak sekadar memberikan gambaran tentang suatu keadaan dari suatu peristiwa, tapi foto jurnalistik diharapkan mampu mengungkapkan makna yang mendalam bahkan menjadi sejarah.

Melalui buku Foto Jurnalistik ini, Taufan Wijaya membagi segala kekuatan foto jurnalistik. Mulai dari sejarah terbentuknya foto jurnalisik hingga berbagai bentuk foto jurnalistik. Selain itu, penyajian buku ini juga dilengkapi dengan karya-karya jurnalis foto ternama sebagai penguat dan penjelas dari foto jurnalistik. Kalimat-kalimat dalam buku ini juga jelas dan lugas juga menjadi salah satu daya tarik dari buku ini.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.