Artikel » Sastra dan Budaya/Resensi

Antara Surga dan Neraka

Oleh: Ranti Maretna Huri
Kamis, 25 September 2014 | 14:35:00 WIB Share
Antara Surga dan Neraka

Antara Surga dan Neraka: Surga Sungsang: Triyanto Triwikromo

Judul              : Surga Sungsang

Penulis            : Triyanto Triwikromo

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : I, Maret 2014

Tebal              : 144 Halaman

 

“Tanjungkluwung tak hanya sebuah dunia di mana dongeng berlangsung dengan simbol-simbol yang misterius.” — Goenawan Mohamad

Sekilas, Tanjungkluwung adalah tempat segala sesuatu yang tampak seperti surga. Tanjung dipagari hutan bakau dan celotehan ribuan bangau. Dari balik rerimbunan elok pohon bakau, mata akan takjub melihat bangau-bangau seolah melayang dari surga yang jauh. Ikan-ikan terbang muncul dari laut yang gelap, dan manusia-manusia murni nan ajaib yang seakan hidup pada 1980-an hanya berzikir dan berselawat terus-menerus.

Namun pada saat yang tak terduga, ada kalanya sepercik api panas menyeruak pada pucuk-pucuk daun yang bersemu dihinggapi embun—bahwa kekacauan akan datang merusak formasi rapi sebelumnya. Bangau dan pohon bakau seolah menjadi petunjuk, juga perumpamaan yang mengindikasikan bahwa legenda bersilangan dengan peristiwa sejarah.

Di sebuah tanjung yang begitu dijaga dengan sebuah masjidnya, muncul pertentangan yang kemudian meledak dalam bentuk tindak kekerasan bahkan pembunuhan. Jika saja telinga tidak ditulikan cericitan bangau, sesungguhnya ada jeritan panjang terakhir yang menyayat dari laki-laki dan perempuan dewasa yang dipancung lehernya. Para pembantai itu meneriakkan nama Allah berulang-ulang, sebelum dengan hati dingin mereka mengayunkan parang, sebelum dengan kegembiraan bukan kepalang menusukkan banyonet ke lambung.

Sesungguhnya, bangau-bangau dan pohon bakau sangat cakap menyembunyikan. Ratusan bangau dan pohon-pohon bakau membentuk benteng pembatas kokoh, tak dapat ditembus oleh mata anak-anak yang kerap bermain ke ujung tanjung untuk sekadar menyaksikan bangau-bangau tersebut berkencan, mempertontonkan gerakan-gerakan  apik, dan meninggalkan ketakjuban pada mata polos mereka. Bocah-bocah kencur itu tak dapat melihat apa sebenarnya yang terjadi di balik itu semua. Mereka tidak tahu, sejatinya Allah tidak menyembunyikan sorak-sorai para pembantai pada bangau-bangau dan pohon bakau. Mereka hanya tak dapat mendengar tangis bangau dan jerit pohon bakau.

Tanjungkluwung tak selamanya bebas dari cela. Seumpama kisah, tentulah tak selalu berakhiran bahagia. Rupa dedongengan indah dengan khayalan tak terbatas yang tersaji pada buku ini pun tak luput dari kenyataan yang sebenarnya. Bahwasannya sebuah tanjung dengan sihir yang diyakini oleh mereka sendiri, adalah sebuah bentuk diam masyarakat terbelakang yang jauh ditinggal peradaban. Hidup damai dalam dunia sendiri pun tak luput dari incaran dari orang-orang kota yang ingin menguasai tempat di mana surga menjelma tersebut. Memaksa tanjung tersebut dijadikan sebuah resor layaknya perkembangan zaman. Pada akhirnya semua musnah. Masjid, manusia-manusia dibantai, juga burung bangau, mereka dibakar dalam hangus api serupa neraka diciptakan manusia.

Selayaknya surga dan neraka yang selalu berdampingan, dalam buku ini ada suatu kekontrasan yang jelas, namun juga samar-samar. Seolah seluruh kisahnya adalah tempat di mana surga Allah singgah, serupa buaian dongeng-dongeng indah. Lalu habis sekejap dalam neraka yang diciptakan oleh manusia.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.