Artikel » Refleksi

Mahasiswa Abdi Bangsa

Oleh: Putri Rahmi
Kamis, 25 September 2014 | 13:13:00 WIB Share

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”.-Ir. Soekarno

 

Mahasiswa merupakan akar dari tumbuh kembangnya bangsa untuk masa yang akan datang. Bila kualitas intelektual dan karakter mahasiswa suatu bangsa baik, maka bangsa tersebut telah memproduksi setengah dari Sumber Daya Manusia yang berdedikasi. Mahasiswa yang individualis dan tidak menghiraukan bangsanya adalah mahasiswa yang tidak bisa dikatakan seutuhnya mahasiswa.

Mahasiswa adalah wadah pengisi peran-peran strategis di tengah-tengah masyarakat nantinya. Namun apa yang akan terjadi bila calon-calon penerus peran strategis ini tidak dapat diharapkan dan malah tidak memenuhi persyaratan di tengah masyarakat karena kepedulian sosialnya yang kurang? Hitung-hitungan dengan seberapa keuntungan yang ia dapatkan dari bangsanya?

Pertanyaan ini muncul dikarenakan melihat kondisi kekinian. Rasa peduli dan empati tidak lagi menjadi ciri khas mahasiswa sebagai makhluk yang beridealisme. Mahasiswa sekarang tidak rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk orang lain bila tidak mendatangkan manfaat untuk dirinya secara pribadi. Peduli sosial tidak hanya diartikan sebagai rasa simpati atau kasihan terhadap sesuatu, namun peduli sosial itu harus diwujudkan serta terealisasi lewat tindakan. Peran mahasiswa di samping sebagai kaum intelektual, mahasiswa harusnya bisa menjadi pelaku pergerakan kemajuan bangsa dan kesejahteraan negara. Maka jelaslah dalam hal ini mahasiswa mesti menanamkan sikap kepeduliannya terhadap bangsa.

Pada masa sekarang, akan sangat sulit ditemui adanya mahasiswa yang secara cuma-cuma rela menjadi abdi bangsanya, pelayan rakyat-rakyat kecil, dan mahasiswa yang mati-matian mencerdaskan bangsa dengan tangan terbuka tanpa mengharap imbalan. Apalagi bila mahasiswa disuruh untuk menggulingkan tahta pemerintahan demi kepentingan rakyat, seperti yang dilakukan oleh gerakan-gerakan mahasiswa pada pra kemerdekaan saat Orde Lama tahun 1966. Kemudian mahasiswa tempo dulu juga menopang lahirnya Orde Baru hingga pemerintahan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial juga kembali digulingkan oleh mereka pada tahun 1998. Sejarah ini menjadi bukti bahwa tingginya kepedulian mahasiswa dalam menegakkan hak-hak rakyat agar terciptanya bangsa yang adil dan masyarakat yang sejahtera. Sanggupkah mahasiswa sekarang melakukan hal yang sama?

Bentuk kepedulian sosial tidak hanya dapat diwujudkan lewat hal-hal besar seperti yanng dilakukan oleh mahasiswa Trisakti. Namun banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita peduli seperti menjadi relawan bencana, mengabdikan diri memajukan daerah terpencil, dan menjadi profesional yang berdedikasi. Mulailah dari hal yang paling kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya.

Dalam lingkungan kampus misalnya, akan jelas tampak bahwa mahasiswa sekarang mulai sangat individualis. Keindividualisan ini terlihat dari gaya mahasiswa yang membiarkan sampah berserakan begitu saja dan menyerahkan semuanya pada orang yang berkewajiban atas itu. Tidak ada salahnya bila mahasiswa juga ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan demi kepentingan bersama. Bagaimana bisa maju? Pemudanya saja ogah-ogahan menjaga lingkungan.

Tidak perlu berbangga mengaku mahasiswa jika hanya bisa mengkritisi suatu sistem tanpa ikut andil menjadi agen perubahan sistem itu sendiri. Pupuklah minat untuk berorganisasi, berusahalah menjadi orang yang berharga di tengah-tengah masyarakat dan   lakukanlah hal-hal yang berarti untuk publik. Hasil yang biasa didapatkan oleh orang-orang yang hanya bisa bicara tapi hasil yang luar biasa akan tampak dari tindakan nyata.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.