Artikel » Artikel/Agama

Bahagia dengan Keyakinan

Oleh: Rival Mulyadi
Kamis, 25 September 2014 | 12:44:00 WIB Share
Bahagia dengan Keyakinan

Bahagia dengan Keyakinan: Rival Mulyadi:Mahasiswa Jurusan Biologi

Sewajarnya, setiap manusia menghendaki kehidupan yang bahagia. Tidak satu pun manusia yang ingin hidup susah, gelisah, dan tidak merasakan ketentraman. Sebagian dari mereka mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Mereka menyangka bahwa pada harta yang berlimpah terdapat kebahagiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta dan ada juga pada kekuasaan. Beragam cara pun dilakukan untuk merebut kekuasaan. Sebab, dalam sebagian persepsi,  kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup. Dengan kekuasaan, seseorang dapat berbuat banyak. Mereka yang sakit menyangka bahagia terletak pada kesehatan, yang miskin mengira bahagia terletak pada kekayaan, rakyat jelata menganggap kebahagiaan terletak pada kekuasaan, dan sangkaan-sangkaan lainnya.

Kebahagiaan bersifat kondisional dan sangat temporal. Jika sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah. Maka tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Kebahagiaan juga menggambarkan kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu.

Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia, hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Menurut Al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai makrifatullah, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, Al-Ghazali menyatakan: Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya  itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Adapun kelezatan hati ialahmakrifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Maka, tentu saja berkenalan dengan Allah adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Oleh sebab itu tidak ada makrifat yang lebih lezat daripada makrifatullah.

Makrifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa tiada Tuhan selain Allah. Laa ilaaha illallah. Maka dari itu, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak ayat-ayat Alquran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomena alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.

Di samping ayat-ayat kauniyah, Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, dijelaskan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa Tiada tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam. Inilah yang dapat mengantarkan manusia kepada peradaban dan kebahagiaan. Jadi untuk mencapai hidup bahagia, maka manusia haruslah mengenal Allah terlebih dahulu dengan mengetahui makrifat kepada Allah, maka Allah memberi ilmu dan hidayahnya kepada manusia berupa akal dan keimanan. Tindakan dan perbuatan yang kita lakukan untuk meraih kebahagiaan sangat tergantung seberapa kuat kemauan, motivasi serta dorongan yang ada. Sedangkan motivasi itu sendiri erat kaitannya dengan tujuan dan manfaat yang diinginkan dalam mencapai hidup bahagia.

Contohnya sebagai seorang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia, hidup dalam keyakinan. Mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nya, ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya serta berusaha menyelaraskan hidup dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya dan mendambakan diri bahagia dalam menjalankan salat, bahagia menunaikan zakat, bahagia bersedekah, bahagia menolong orang lain, dan bahagia menjalankan tugas. Mudah-mudahan Allah mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Bahagia di akhirat kelak tergantung pada saat kita hidup di dunia. Di dunia tempat menanam di akhirat memetiknya. Bahagia di dunia hendaknya dapat membawa bahagia di akhirat. Bahagia di akhirat ditentukan oleh seberapa jauh kita hidup sesuai dengan patunjuk dan aturan dari Allah SWT, yaitu taat pada pedoman hidup Alquran dan hadis atau sunah Rasulullah.

Bahagia ada dalam diri, bukan ada di luar. Maksudnya bukan semata disebabkan tercapainya segala keinginan tetapi sikap menerima apa yang terjadi baik keberhasilan maupun kegagalan. Jika bahagia identik dengan terpenuhinya keinginan, sebaiknya keinginan dikurangi, disesuaikan dengan kebutuhan, disesuaikan dengan kondisi diri. Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan seorang muslim semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari dirinya. Seorang muslim sejati selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Mereka menyadari memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.

Rasulullah bersabda, Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Inilah merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.