Artikel » Feature

Tradisi Pacu Jawi

Oleh: Doni Fahrizal
Kamis, 25 September 2014 | 11:52:00 WIB Share
Tradisi  Pacu Jawi

Tradisi Pacu Jawi: Babaju: Sepasang Jawi yang memakai suntiang dan hiasan ditubuhnya. Jawi daerah Sungai Tarab ini diarak dengan hiasan-hiasan sebelum dipacu dalam tradisi Pacu Jawi, Sabtu (30/8). f/Doni

Sebelum berpacu, jawi-jawi ini didandani dengan kain suntiang.

Bagian kiri-kanan jalan Nagari Talang Tangah, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar terhampar sawah milik penduduk. Berwarna-warni, ada yang hijau, kuning, dan coklat. Beberapa sawah terlihat baru ditanam padi, masih pendek dan kecil-kecil. Lainnya, siap untuk di panen. Tapi, sawah Si Ayang (Sayang) masih kosong, baru selesai dipanen kira-kira dua bulan lalu. Sawahnya ada beberapa petak, berjenjang-jenjang. Sawah paling atas, jadi tempat parkir sepeda motor. Di tengah, tempat berdiri warga, pedagang, dan jawi sebelum di pacu. Dan paling bawah, sawah basah sebagai arena tempat bapacu.

Pacu Jawinamanya. Tradisi adat masyarakat Tanah Datar, Sumatera Barat yang telah dilaksanakan turun temurun sejak ratusan tahun lalu. Tujuannya, sebagai hiburan bagi masyarakat seusai masa panen. Pacu Jawi dilaksanakan secara bergantian di empat kecamatan, yaitu Rambatan, Sungai Tarab, Pariangan, dan Lima Kaum. Kali ini Kecamatan Sungai Tarab jadi tuan rumah. Dan arenanya adalah sawah milik Si Ayang –seorang warga disana- yang dari dulu jadi tempat bapacu. Pacu Jawikali ini dilaksanakan pada Agustus, mulai Sabtu tanggal 9,  dilanjutkan 16, 23, dan ditutup tanggal 30 Agustus.

Sebelum dipacu, jawi-jawi dari Sungai Tarab didandani dengan kain suntiang dan aksesoris lainnya. Begitulah aturannya, jawi dari nagaripenyelenggara harus babaju. Jawi-jawi ini diarak warga menuju lokasi pacu. Dibelakangnya, para bundo kanduang juga memakai pakaian adat sembari menjujung dulang berisi makanan khas daerah di kepalanya

Sesampainya di lokasi, bundo kanduang menuju tenda. Di dalam tenda terdengar alunan nada talempong yang dimainkan Niniak mamak (tetua adat). Bundo kanduang kemudian menaruh dulang di atas lapiak (tikar). Sesaat kemudian, musik dihentikan. Seorang niniak mamak berdiri dan mulai berbicara. Kudato Tagak orang menyebutnya.

Kudato Tagak adalah salah satu prosesi adat yang dilakukan dalam acara pacu jawi ini. Niniak mamak dari suku-suku di 4 kecamatan saling berbalas pidato adat, mengkaji nilai luhur adat mulai Gunung Marapi hingga ke bawah. Pidato disampaikan dalam bahasa daerah. Dan uniknya pidato tersebut dinyanyikan. Selesai itu, baru jawi dipacu.

Sekitar 150 pasang jawi dipacu dalam kegiatan ini. Jawi tersebut dipasangkan semacam alat bajak yang terbuat dari kayu dan bambu. Dalam Pacu Jawi, jawibukan diadu cepat larinya. Jawi berlari hanya satu-satu pasang. Setelah satu pasang sampai di garis akhir, gantian pasangan lainnya yang akan melaju.

Dalam tradisi ini tidak ada juri atau tim penilai. Jadi tidak ada juara 1, 2, dan seterusnya. Pacu jawihanya menyuguhkan jawi berlari. Jawi yang berlari lurus dan tidak terpisah dari pasangannya hingga ke finish dianggap jawi yang kuat dan sehat.

Rangkaian tradisi ini ditutup secara resmi oleh Kepala Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Tanah, Datar Marwan, S.E., mewakili Bupati Tanah Datar. “Terima kasih untuk para tamu dan wisatawan, semoga bisa datang kembali pada event selanjutnya,” tutupnya, Sabtu (30/8).

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.