Artikel » Feature

BEM UNP: Belajar dari Negeri Jiran

Oleh: Adnan Arafani
Kamis, 25 September 2014 | 11:45:00 WIB Share
Foto Bersama

Foto Bersama: Peserta Kongres Pembentukan Forum BEM Indonesia-Malaysia dan Forum Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan Indonesia-Malaysia, Selasa (1/10). f/Doc. 

Segala aspek merupakan paduan antara amal dan ilmu di kampus-kampus negeri Jiran ini.

Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 14.25 WIB, kali pertama saya menginjakkan kaki di Kuala Lumpur International AirPort (KLIA) pada awal Oktober tahun lalu. Perjalanan ini merupakan perjalanan dinas dalam rangka mengikuti Kongres Pembentukan Forum BEM Indonesia-Malaysia dan Forum Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan Indonesia-Malaysia. Menuju penginapan dengan mobil dari kedutaan besar Indonesia untuk Malaysia,  bendera Malaysia terlihat di sepanjang jalan. Ternyata Malaysia baru saja melaksanakan pemilihan umum. Pelajaran pertama pun saya dapatkan. Pemilu di negeri Jiran tersebut tidak menyisakan satu pun bendera partai usai pemilu, yang ada hanya bendera kebangsaan sebagai bentuk persatuan.

Memasuki hari kedua, Kongres Pembentukan Forum BEM Indonesia-Malaysia dan Forum Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan Indonesia-Malaysia menjadi agenda kami. Selanjutnya, mengadakan kunjungan ke Kementrian Pendidikan Malaysia, perjalanan dinas ini berakhir di UKM (Universiti Kebangsaan Malaysia) dan UPM (Universiti Putera Malaysia).

Saat pertama kali mata memandang Universitas Kebangsaan Malaysia, mata saya terpaku pada sejumlah tulisan yang terpampang di dinding masuk  komplek universitas ini. Tulisan itu berbunyi “Paduan antara iman kepada Allah dengan Ilmu yang bermanfaat serta gabungan  antara teori dengan amal adalah dasar utama bagi perkembangan, proses pembinaan masyarakat terpelajar, dan pembangunan universitas.” Merenungkan kata-kata tersebut, saya menyadari betapa pekatnya suasana ilmiah dan religi di kampus tersebut. Mesjid-mesjid kampus yang selalu ramai semakin mempertajam cita rasa Islam dalam berbagai aktivitas di sana.   

Berdiskusi sekaligus sharing bersama di UKM dan UPM, memberikan kesan tersendiri bagi kami, mahasiswa Indonesia. Beberapa catatanpun tertoreh pada notebook saya. Di kampus UKM dan UPM, atau barangkali di semua kampus di Malaysia, mereka memberikan kredit poin akademik bagi yang aktif dalam organisasi mahasiswa. Misalnya, pengurus unit kegiatan mahasiswa universitas yang aktif selama satu periode (2 semester) akan dihitung menyelesaikan masing-masing 3 SKS untuk tiap semester, artinya mereka menabung SKS untuk wisudanya.

UKM dan UPM juga memberikan penghargaan khusus bagi aktivis kampusnya, dengan memberikan semacam ijazah aktivis. Jadi, para organisator saat wisuda akan mendapatkan ijazah akademik sebagaimana biasa dan juga ijazah organisasi kemahasiswaan. Selain itu, hak istimewa juga akan diterima oleh presiden mahasiswa. Presiden mahasiswa di kampus negeri ini akan diberikan kesempatan untuk dimentoring langsung oleh Menteri.

Perjalanan dinas saya berakhir di UPM. Namun, pelajaran yang saya petik tidak hanya sampai disitu saja. Pelajaran selanjutnya saya dapatkan ketika berada di tengah-tengah masyarakat Malaysia di Malaka, berbaur langsung dengan masyarakat kalangan menengah ke bawah dalam keseharian mereka. Meskipun terdiri dari berbagai suku seperti suku Cina, Arab, India, dan didominasi oleh suku Melayu, mereka bisa hidup dengan harmonis dalam satu kearifan lokal. Layaknya negara kita Indonesia yang kaya akan suku, ras, dan agama, negeri Jiran tersebut diselimuti oleh Islam sebagai agama mayoritas. Tak ada diskriminasi, saling menghargai dan toleransi.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.