Artikel » Feature

Rais: Mahasiswa Mandiri Pekerja Keras

Oleh: Putri Rahmi
Kamis, 25 September 2014 | 11:24:00 WIB Share
Resepsionis Hotel

Resepsionis Hotel: Rais Fitra, seorang mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan TM 2009 sedang menjalankan shift kerjanya sebagai resepsionis hotel, Minggu (14/9). f/Doc. 

Setidaknya Rais harus bekerja selama 8 jam dalam sehari. Ia juga harus segera menyelesaikan studinya di UNP.

Waktu menunjukkan pukul 05.17 WIB ketika alarmnya berbunyi. Bagi mahasiswa semester akhir yang tidak mempunyai mata kuliah lagi selain skripsi, bangun sepagi itu merupakan hal yang tidak biasa. Namun, bagi Rais Fitra hal itu adalah rutinitas. Setelah menunaikan kewajibannya terhadap Tuhan yang Maha Esa—salat Subuh—mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan TM 2009 ini mulai beraktivitas.

Aktivitas tersebut sudah ia lakoni selama lebih kurang dua tahun. Membentuk boneka-boneka danbo dengan bahan dasar kayu untuk memenuhi pesanan pelanggan atau dijual langsung ke konsumen merupakan usaha sampingannya selain pekerjaan yang tengah ia geluti, sebagai resepsionis hotel. Tak sedikit uang yang ia peroleh dari bisnis ini. Setidaknya, Rp1,5 juta bisa ia hasilkan dalam sebulan dari hasil berjualan danbo. Pendapatannya sebagai resepsionis hotel juga lumayan besar. Rais bisa mendapatkan gaji bersih Rp2 juta dalam sebulan.  

Bekerja sebagai resepsionis hotel menuntut Rais harus pintar-pintar membagi waktu. Shift kerja yang ia dapatkan tidaklah menentu, kadang shift siang, kadang shift malam. Jika ia mendapatkan shift siang, ia bekerja dari jam 3 sore hingga jam 11 malam. Jika mendapatkan shift malam, Rais harus menahan kantuk semalaman karena ia harus bekerja dari jam 11 malam hingga jam 7 pagi.

Bekerja sembari kuliah merupakan pilihan yang harus diambil oleh Rais. Berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi di bawah rata-rata menjadikan anak ke-3 dari lima bersaudara ini harus bekerja sembari menyelesaikan studinya. Berbagai jenis pekerjaan juga telah ia coba. Mulai dari menjadi penjual sayur di pasar, bekerja di mall, bekerja sebagai pegawai catering, hingga ikut dalam survei Lembaga Survei Indonseia, dan Survei Kompas.  

Keinginan untuk membantu biaya pendidikan adik-adiknya merupakan penyemangat utama bagi Rais untuk terus bekerja paruh waktu. Ditambah lagi dengan kondisi ibunya yang mengalami stres ringan dengan ayah yang hanya bekerja sebagai petani semakin menuntut Rais untuk menjadi kepala keluarga. Dua orang adiknya terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya, yang satu hanya sampai bangku Sekolah Menengah Pertama dan yang satunya lagi hanya tamatan Sekolah Dasar. Setidaknya, dengan bekerja paruh waktu seperti yang tengah ia jalani sekarang bisa mengurangi beban orang tuanya.

Kuliah sambil bekerja memang tidaklah mudah. Karena bagaimanapun juga, Rais harus tetap menyelesaikan studinya sebagai mahasiswa. Ia juga terus mencoba untuk tetap menjadi mahasiswa yang baik dan anak yang berbakti bagi orang tuanya. Hal ini dibuktikannya dengan Indeks Prestasi tidak pernah kurang dari 3,00. Berbagai beasiswa pun juga pernah ia dapatkan, seperti beasiswa Penunjang Prestasi Akademik yang telah dua kali ia peroleh dan beasiswa Bank Indonesia.

Sekarang ini, Rais hanya perlu segera menyelesaikan skripsinya agar bisa wisuda. Untuk itu, setidaknya Rais menyisakan waktu satu kali dalam sebulan untuk bimbingan skripsi.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.