Artikel » Sastra dan Budaya/Catatan Budaya

Bangunan Tua

Oleh: Ratmiati
Sabtu, 09 Agustus 2014 | 09:50:00 WIB Share

Beberapa tahun silam bangunan itu masih banyak dikunjungi orang-orang. Tak hanya untuk beribadah saja, tapi juga dijadikan tempat persinggahan oleh para musyafir. Gedung itu penuh suka cita. Berbagai macam cerita, seolah terekam di dalamnya. Menyimpan perputaran  jejak  kehidupan di  masa jayanya. 

Tetapi lihatlah kini. Hanya kerapuhan yang menemani kesendiriannya. Sendiri, seolah tak ada yang mau mengiyakan keberadaannya. Sepi, diam, dan hening. Memang benar, hanya kesunyian yang mengelayap. Tak ada lagi suara gaduh dan ricuh yang menemani waktu-waktunya. Ronanya yang perlahan kusam dimakan masa, membuat orang-orang tak lagi meliriknya. Satu persatu tiang mulai rapuh, sumurnya pun keruh, sepertinya tak ada lagi butuh. Ditinggalkan oleh kejaran waktu yang tak pernah berbalik.

Sama halnya dengan manusia tua—pak tua ataupun buk tua. Puluhan tahun silam mereka adalah sosok yang kuat. Sandaran bagi manusia lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, manusia tua terus bertambah tua hingga lanjut usia. Hingga masa jayanya sirna dan tak ada lagi yang menghiraukannya. Kekuatan dan semangatnya yang mulai berkurang, serta tak kuat lagi mengerjakan pekerjaan yang banyaknya segudang, membuatnya tak lagi dilirik orang. Tinggallah manusia  tua yang malang.

Seorang pahlawan misalnya. Memperjuangkan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Diagung-agungkan karena dianggap telah berjasa pada negara. Ketika muda ia dihormati. Semua jasa-jasanya diperingati. Namun apa daya, saat dia mulai tua tak ada lagi yang peduli. Semua upayanya untuk meraih kemerdekaan dengan taruhan nyawa perlahan dilupakan. Hanya buku sejarah yang setia menghafal namanya.

Tidak hanya pahlawan saja, orang tua lainnya juga bernasib sama. Mereka yang dulunya berjuang untuk menyambung hidup keluarga, dipandang tak berguna. Tak sedikit para manula yang dibiarkan hidup sebatang kara. Ditinggalkan keluarga, sehingga menggelandang di mana-mana. Paling untung hidupnya ditampung di panti-panti manula. Sungguh malang manusia tua. Sebuah pertanyaan pun muncul, “Kenapa hidupnya tak lagi muda?”

Memang, kehidupan tua adalah fitrah bagi mereka yang diizinkanNya melihat dunia dalam waktu yang lama. Namun tak semua kehidupan tua akan sama dengan kehidupan ketika muda. Memang ada benarnya yang tertulis di dalam Al-quran “tak ada yang abadi”. Kekuatan, semangat, kejayaan, kenikmatan, dan kekayaan yang dimiliki seseorang itu tak kekal selamanya. Ada kalanya manusia ini akan lelah dan usianya bertambah, hingga akhirnya ia tak mampu lagi berkiprah layaknya pemuda yang penuh gairah.

Gedung tua dan manusia tua adalah dua objek yang sama-sama tua dan bernasib sama. Permasalahan tersebut sepatutnya menjadi renungan bagi kita untuk tetap menghargai orang tua. Tetap merawat dirinya dengan sabar dan penuh keikhlasan. Satu hal yang mestinya kita sadari bahwa gedung tua atau pun orang tua itu pernah memberi manfaat bagi kita semua.

Share on:

Sastra dan Budaya/Catatan Budaya lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.