Artikel » Sastra dan Budaya/Cerpen

Bom Waktu

Oleh: Rafdisyam
Senin, 21 Juli 2014 | 14:33:00 WIB Share
Karikaturis

Karikaturis: Oping 

Jika bukan karena uang, lalu untuk apa kita sekolah, kuliah, dan bekerja? Sebenarnya uanglah yang mengendalikan dunia ini. Sedangkal itu yang dapat terpikir jika pikiran tidak berkembang. Memikirkan apapun sama dengan memikirkan uang. Mungkin saja ini dapat dihubungkan. 

Sambil duduk santai dan menyeduh cadburry panas, aku sejenak terlamun. Dalam pikiranku seperti ada yang bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang aku pikirkan? Aku tidak tahu pasti. Sekarang aku hanya memikirkan kekasihku. Lantas, apa hubungannya dengan uang?

Entah! Sebenarnya aku teringat kekasihku, Evan. Akhir-akhir ini aku jadi lebih sering merindukannya. Sejak libur semester lalu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya.

Kami telah berpacaran selama tiga tahun. Namun belum punya sesuatu yang spesial untuk dikenang. Aku ingin sekali membuat sesuatu yang berkesan bagi kami. Beberapa hari lagi Evan akan berulang tahun. Mungkin hari itu adalah momen yang tepat membuat kenangan yang tak terlupakan.

Aku bergegas menuju kamar dan kubuka lemariku lebar-lebar. Terlihatlah barang-barang mewah menghiasi lemari itu. Ada clutch bag, tas Stella Mc Cartney, dress, jam tangan Cartier  dan aksesoris mahal lainnya. Jika saja kekasihku perempuan, pasti ia akan berusaha merayuku untuk menghadiahkan barang-barang itu kepadanya. Perempuan mana pun akan silau melihat barang-barang mewah yang aku koleksi.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara sepatu di depan pintu kos. Aku bergegas menutup kembali lemariku. Beberapa detik berselang Kiki masuk.

“Aku lelah. Andaikan hari ini bisa di-skip, aku mau bayar berapa saja.” Keluh Kiki sambil menghambur di springbed-ku.

“Enak ya jadi kamu, Ki. Apapun bisa dibeli dengan uang.”

“Itu hanya hayalan saja Rah. Lagi pula mana bisa aku membeli hari. Ah, yang benar saja kamu,” jawab Kiki sambil beranjak dari tempat tidurku.

Memang enak menjadi seorang Kiki. Apapun bisa dibelinya dengan uang. Mau ini tinggal minta. Mau itu tinggal beli. Tinggal gesek kartu. Sedangkan aku? Aku lahir dari keluarga serba kekurangan. Kepala keluargaku pengangguran. Jangankan untuk meminta ini dan itu, bisa kuliah saja sudah syukur. Tetapi sekarang, perputaran kehidupan begitu kental aku rasakan. Sebab sekarang, aku merasakan kegemerlapan sebuah kehidupan, meski tidak seterang Kiki.

“Oiii!” Kiki mengejutkan pikiranku. 

“Seminggu lagi Evan ulang tahun. Aku bingung harus beri kado apa. Kamu ada ide?” tanyaku mengalihkan situasi.

“Sepatu. Kemarin sepatu Evan sudah lusuh. Kemarin aku juga beli sepatu untuk Andre. Murah kok. Cuma empat ratus lima puluh ribu. Ini fotonya.” Kiki memperlihatkan gambar di gadget-nya.

Aku melirik. Kemudian berpikir panjang. Mana ada aku uang segitu.

“Atau kenapa tidak ke Bandung saja. Ke tempat Evan,” saran Kiki lagi.

“Sebenarnya aku ingin sekali ke Bandung. Dulu aku pernah janji untuk mengunjunginya. Lagi pula libur semester ini dia tidak pulang. Tetapi aku tak punya uang. Aku sudah berusaha nabung, tapi tetap saja tidak cukup. Kalau aku punya banyak uang, pasti....” Belum sempat aku  menyelesaikan ucapanku, Kiki memandang aneh. Ia heran mendengarkan keluhanku. 

“Tidak punya uang? Jangan bercanda, Rah.” Kiki menyenggolku.

“Bercanda.” Ujarku mencairkan suasana. Kiki memang tidak tahu dengan keadaanku yang sebenarnya. Di mata Kiki aku adalah gadis kaya dari keluarga terpandang. Sama seperti Kiki. Aku memang sering bercerita begitu pada Kiki agar dia tetap mau menjadi temanku.

Hidup Kiki mewah. Setiap hari selalu tampil dengan barang-barang mahal. Aku tergila-gila dengan semua kepunyaan Kiki. Aku ingin tampil seperti dia. Namun suratanku tidak seberuntung itu. Kiki kaya kenyataan. Sedangkan aku hanya terlihat kaya dengan segelintir barang mewah yang mengkamuflase statusku.

***

Tiga hari berlalu setelah percakapan hari itu. Ulang tahun Evan tinggal sebentar lagi. Aku masih belum punya hadiah untuk Evan. Aku benar-benar harus memikirkan sesuatu yang brilian supaya Evan terkesan dengan kejutanku di hari ulang tahunnya. Aku terus browsing di internet, termasuk melakukan pencarian sepatu.

Aku mulai berpikir serius. Remang-remang lampu tidur yang tertempel rapi di dinding kamar menemani lamunanku. Sebenarnya aku tidak ingin lagi menghubungi Om Jhoni, tapi terpaksa harus kulakukan juga. Kebutuhanku saat ini sudah mendesak, alir pikiranku hanya tertuju pada satu muara yang di situlah letak solusiku. Tiba-tiba secara kebetulan, Om Jhoni menghubungiku. Aku menyentuh tanda hijau di layar dan menjawab panggilan tersebut.

“Halo Mirah, kamu sibuk?” Om Jhoni langsung bertanya padaku.

“Nggak kok Om. Ada apa Om ka....” Aku langsung memutus teleponya karena mendadak pintu kamarku dibuka Kiki.

“Loh, kok dimatiin? Aku ganggu? Biasanya kamu kalau menelepon Evan nggak gitu-gitu amat,” Kiki menanyaiku dengan penasaran.

Lagi-lagi handphone-ku bergetar, Om Jhoni menelepon lagi, sedangkan aku belum sempat menjawab pertanyaan dari Kiki. Tanpa pikir panjang aku langsung menonaktifkannya.

“Oh ini, bukan apa-apa kok Ki. Bukan Evan juga kok. Mungkin cuma orang iseng doang,” jawabku sambil meyakinkan Kiki.

Walau sudah tiga tahun aku berteman dengan Kiki. Walau kami sangat dekat, tapi kami punya privasi masing-masing. Itu menguntungkanku. Walaupun di depannya aku seperti bercerita terbuka apa adanya, tapi kebanyakan hanyalah bohong belaka. Begitulah caraku medekatkan diri kepada Kiki, agar dia mau menjadi sahabatku. Entahlah dengan Kiki, aku juga tidak tahu bagaimana privasinya. Yang jelas dia sahabatku yang kaya raya.

***

Ulang tahun Evan tinggal sehari lagi. Sedangkan aku belum menemukan kado yang pantas untuk Evan. Sebenarnya Kiki mau menemaniku membeli sepatu yang diperlihatkanya waktu itu. Tetapi aku selalu menolak ajakannya. Aku belum punya uang.

Aku benar-benar panik. Hingga aku hanya mengurung diri di kamar sambil terus berpikir. Apa aku harus jujur pada Kiki? Pada Evan? Pada semua orang? Aku putus asa.

Aku sempat berpikir untuk menghubungi Om Jhoni lagi. Aku melirik handphone-ku. Di layarnya tampak foto mesraku dengan Evan. Aku pun tersentak. Aku harus mengakhiri semuanya. Semua kebohonganku hanya akan menjadi bom waktu. Menunggu detik demi detik ledakannya. Semua akan meledak juga. Untuk apa berlama-lama memelihara sesuatu yang akan menghancurkan semua jalan yang menutup gerbangku di dunia ini atau di dunia setelah ini. Mungkin ini kado yang terakhir, mengesankan, dan menyakitkan untuk Evan. Aku akan mengatakan padanya bahwa Om Jhoni telah membayar tubuh indahku dengan mahal.

SELESAI

Padang, Mei 2014

Share on:

Sastra dan Budaya/Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.