Artikel » Refleksi

Sang Mahasiswa

Oleh: Putri Oviolanda Irianto
Senin, 21 Juli 2014 | 14:03:00 WIB Share
Pada masa sejarah kelam pra reformasi Indonesia, mahasiswa serupa pahlawan yang membela masyarakat juga membebaskan rakyat dari situasi kekacauan. Sekarang, mahasiswa dituntut memerankan keintelektualannya yang seharusnya, dan kembali memaknai Sumpah Pemuda seperti sedia kala.

Bagi sebagian orang, ada kebanggaan tersendiri ketika menyandang status sebagai mahasiswa. Mengapa tidak. Mahasiswa pemikir kreatif nan independen. Kaum pendobrak perubahan. Penyalur suara rakyat yang tak lagi terdengar oleh para wakil khalayak. Mahasiswa serupa jembatan antara rakyat dengan pemerintah. 

Secara harfiah, mahasiswa merupakan orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut, atau akademi. Sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa. Perjuangan mahasiswa memerangi ketidakadilan hingga pergerakan mahasiswa yang memunculkan tokoh dan pemimpin bangsa. 

Jika ditilik ke belakang, banyak cerita tentang kebangkitan bangsa  melawan penjajahan Belanda. Seperti kejadian yang dimotori oleh para mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang berpusat di Waltervreden, Batavia. STOVIA dikenal sebagai pencetak tokoh pergerakan generasi awal seperti Tjipto Mangunkusumo, Wahidin Soedirohusodo, dan Dr. Sutomo.

Begitu juga saat pemerintahan Bung Karno yang labil karena situasi politik memanas pada tahun 1966. Mahasiswa tampil memberikan semangat bagi pelaksanaan Tritura yang akhirnya melahirkan orde baru. Bahkan seiring banyaknya penyimpangan yang dilakukan pada masa orde baru, mahasiswa mampu memelopori perubahan yang kemudian melahirkan zaman reformasi. Demikianlah perjuangan mahasiswa dalam memperjuangkan idealismenya untuk memerangi ketidakadilan.

Maka tidak heran jika nama mahasiswa begitu diagungkan karena mampu membawa perubahan yang berarti. Tetapi pergerakan zaman ternyata memberikan efek besar terhadap kehidupan mahasiswa sekarang. Banyak mahasiswa yang tidak menyadari peran pentingnya.

Perubahan pola pikir serta tingkah laku individu sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan di mana ia hidup, sebab kondisi lingkungan selalu mengikuti perubahan zaman. Hal ini merupakan hukum alam, meskipun sebenarnya manusia itu sendirilah yang menciptakan perubahan-perubahan tersebut. 

Mahasiswa merupakan agent of change. Slogan teruntuk mahasiswa yang membuat sebutan mereka kian dibesar-besarkan. Namun, apakah praktik yang diterapkan oleh mahasiswa memang demikian. Biarlah fakta nan tampak yang berbicara. 

Mahasiswa sebagai agen perubahan seharusnya berperan sebagai generasi penerus bangsa yang senantiasa berpikir kritis dan kreatif. 

Terlebih lagi dahulu seorang aktivis mahasiswa di mata masyarakat dipandang begitu spesial. Kenyataannya sekarang masyarakat memandang mahasiswa yang bergelar aktivis hanya  sebelah mata. Hal ini mungkin diakibatkan adanya aksi demonstrasi yang sering merusak fasilitas umum dan mengganggu ketertiban. Pun, dalam diri aktivis mahasiswa saat ini lebih kental aroma politis daripada sifat kritis. 

Tidak tampak apa yang diperjuangkan itu adalah untuk kepentingan masyarakat. Padahal dulu orientasi gerakan mahasiswa yaitu lebih kepada gugatan terhadap struktur kekuasaan, namun sekarang orientasinya yaitu pada pembentukan opini publik.

Hendaknya mahasiswa  menyadari arti penting kehadirannya. Terkadang, memilih jalan kuliah menjadi seorang aktivis dengan berkecimpung di organisasi dapat menjadi salah satu perantara untuk melakukan perubahan tersebut. Selain itu, mahasiswa sepatutnya juga bisa menyumbangkan ide-ide kritis dan kreatif terhadap acara yang direncanakan. Setidaknya, berkeinginan menciptakan perubahan lewat sumbangan pemikiran dengan gagasan kreatif serta inovatif. 

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.