Artikel » Kolom

Menjadi Bahagia

Oleh: Meri Susanti
Senin, 21 Juli 2014 | 14:02:00 WIB Share
Meri Susanti

Meri Susanti: Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia TM 2011 

Sebuah konsepsi kehidupan kadang menjadi tujuan utama sang lakon. Prasangka yang seakan semu. Sebuah penghargaan terhadap pencapaian ketentraman. Buah dari perjuangan dan pengaktualisasian potensi. Sebuah harmonisasi dengan alam dengan cara memelihara semesta sebagai rumah kehidupan, selalu terbuka untuk terus belajar dan berkembang. Karena dia  sebuah kebebasan. Melihat dunia apa adanya, tanpa penilaian yang menghasilkan harapan berlebihan, atau justru kekecewaan yang mendalam. Kadang diartikan sebagai sebuah kunci untuk menjalani hidup yang bermakna. Karena dalam hidup ini tidak satu pun yang baik selain kesenangan dan tidak ada suatu keburukan kecuali kesakitan dan pederitaan, keutamaan tidak ada nilai bila tidak mengandung kebahagiaan. 

Bagi Aristoteles, filsafat menjelaskan bahwa hanya orang yang menguasai hawa nafsunya yang bisa bahagia. Kita tidak bisa langsung mengusahakan kebahagiaan, namun suatu tindakan yang kita ketahui akan mengantarkan kita pada kebahagiaan. Sedangkan bagi filsuf sebelum Aristoteles, seperti Phytagoras, Socrates, dan Plato, kebahagiaan hanya bisa dicapai oleh jiwa saja. Oleh karenanya, ketika mengklasifikasikan bahagia, mereka hanya membatasi pada fakultas-fakultas jiwa semata seperti kearifan, keberanian, kesederhanaan, dan keadilan. Kebahagiaan hanya akan berkurang jika manusia mempunyai pikiran yang lemah. Dengan demikian, kemiskinan, nama baik, wibawa ataupun kekurangan lain di luar badan tidak akan merusak nilai kebahagiaan. 

Namun, untuk dapat mengamati diri dan mempersepsikan diri dalam sebuah konsep kebahagiaan adalah sulit. Karena harus keluar dari keramaian dunia, dan melakukan pengamatan diri, guna sampai pada kesadaran. Tak banyak yang berani menghindarinya, sehingga mereka tetap hidup dalam pola berayun dengan senang sesaat dan sedih mendalam. 

Prinsipnya, kebahagiaan tidak berada di luar badan, tapi berada di dalam diri, yaitu dengan mefungsikan potensi yang dimilikinya, melalui sarana-sarana yang menjadi objek pikiran. Artinya, untuk tercapainya bahagia sangat tergantung kepada cara manusia itu menyikapi hidup, bukan bagaimana hidup memberlakukan manusia. 

Walau sebenarnya bukan nikmat yang harus kita kejar melainkan perbuatan yang bermakna. Karena dengan mengejar perbuatan bermakna, nikmat akan  mengikuti dengan sendirinya maka kita pun sungguh menikmati hidup, seperti moralitas. Dan tentang pilihan untuk bahagia atau tidak, adalah bagaimana manusia tersebut memandang kebahagiaan itu tersendiri. 

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.