Artikel » Ensiklopedia

MERS nan Mematikan

Oleh: Media Rahmi (dari berbagai sumber)
Senin, 21 Juli 2014 | 01:28:00 WIB Share
Virus MERS-Cov

Virus MERS-Cov: virus yang dapat menyebabkan kematian

Tak terlihat juga tak teraba, meskipun telah menggunakan mikroskop. Hanya bisa tampak jika menggunakan mikroskop elektron, karena ukurannya yang mikroskopik. Itulah virus; penyebab serta penular penyakit, dengan menginfeksi sel makhluk hidup, sehingga tergolong parasit karena cenderung mengganggu dan berbahaya. Tidak jarang virus bisa menyebabkan kematian seperti virus MERS-Cov. 

Virus MERS-Cov atau singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus merupakan virus penyebab penyakit MERS. Meskipun satu keluarga dengan virus SARS-Cov (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus), virus MERS menginfeksi lebih cepat dibanding virus SARS. Seseorang yang telah positif terserang virus MERS, rata-rata kematiannya seminggu lebih awal dibandingkan dengan yang terserang virus SARS. 

Selain itu, sebanyak 60% orang dengan penyakit kronis yang terinfeksi MERS meninggal, dibandingkan dengan hanya 1% orang dengan penyakit kronis yang terjangkit SARS.

Penyakit MERS pertama kali ditemukan di Arab Saudi tahun 2012. Asal mula penyebaran virus ini belum diketahui dengan jelas. Tetapi beberapa peneliti telah menduga bahwa penyebaran virus berasal dari salah satu jenis kelelawar yang banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah. Kesimpulan pun dicapai, setelah para peneliti menemukan adanya kecocokan genetik 100 persen pada virus yang menginfeksi kelelawar jenis tersebut dengan manusia pertama yang terinfeksi. 

Pemikiran para peneliti lain menyebutkan bahwa selain kelelawar, unta juga diduga kuat berkaitan dengan asal mula dan penyebaran virus ini. Februari lalu, para ilmuwan menerbitkan temuan mereka bahwa hampir tiga perempat dari unta di Arab Saudi dinyatakan positif mengidap virus MERS. 

Serupa dengan flu biasa, gejala dari virus ini pun mirip, namun penyebarannya lebih cepat ke paru-paru sehingga menyebabkan infeksi saluran pernapasan bawah atau pneumonia, serta radang paru. Gejala-gejala yang terlihat di antaranya demam, sakit dada, napas pendek, lemah, batuk dan bersin, diare (tidak ditemukan pada semua kasus), gagal ginjal, dan pneumonia. 

Hingga 14 Mei 2014 lalu, virus MERS telah menjangkiti 14 negara yaitu Arab Saudi, Malaysia, Yordania, Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab, Tunisia, Kuwait, Oman, Filipina, Indonesia, Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat. Sejumlah 500 kasus telah dilaporkan secara global, dan 30 persen di antaranya meninggal dunia. 

Lain lagi di Indonesia, sebanyak 13 provinsi juga melaporkan suspect virus MERS ini. Sebagian besar suspect tersebut merupakan orang-orang yang telah kembali dari daerah Timur Tengah usai menyelenggarakan ibadah haji atau umrah.

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada vaksin yang spesifik dapat mencegah infeksi MERS-Cov. 

Selain itu, belum ditemukan juga metode pengobatan yang secara spesifik dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh virus ini. Perawatan medis hanya bersifat supportive untuk meringankan gejala. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan yaitu melakukan pencegahan sejak dini terhadap penularan virus ini.

Beberapa pencegahan yang bisa diupayakan agar tidak terserang virus MERS di antaranya dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu ketika batuk ataupun bersin dan tidak sedang menderita sakit misalnya penggunaan alat makan atau minum bersama juga harus dihindari. 

Selain itu, barang-barang yang sering disentuh sebaiknya dibersihkan menggunakan desinfektan.

Namun yang paling penting dari semua pencegahan yang ada yakni menigkatkan daya tahan tubuh agar tidak terjangkit virus ini. 

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.