Artikel » Refleksi

Mahasiswa Autis

Oleh: Rettu Fitria Nita
Rabu, 14 Mei 2014 | 19:58:00 WIB Share

Sejatinya mahasiswa adalah pengendali, penggerak bangsa,  supaya bisa bangkit dari keterpurukannya. Bukan hadir sebagai sorang  individualis, apatis, dan autis di tengah membanjirnya informasi dan semakin majunya teknologi.

Di tengah dunia serba modern ini, penyandang keterbatasan fisik atau mental tidak hanya ditemukan pada kalangan disabilitas. Bahkan, manusia normal pun dapat dikategorikan kepada golongan tersebut, dikarenakan mengidap gangguan atau bermasalah pada fungsi dan struktur tubuh, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Seperti autis, remaja saat sekarang kerap menyandang gejala ini, khususnya mahasiswa.

Autis bermula dari kata autisme, dari bahasa Yunani yang berarti keadaan diri sendiri. Serupa gejala menutup diri secara total, kecendrungan menyendiri, tidak mau berhubungan dengan orang lain dan asyik dengan dunianya sendiri. Autis pada umumnya dibawa oleh anak sejak lahir atau balita, dikarenakan hormon yang tidak berfungsi dengan baik dan ketidakmapuan berkomunikasi.

Namun pada kenyataan sekarang,  mahasiswalah yang banyak mengidap autis. Bukan sebuah bentuk fisik atau ketidakmampuan berkomunikasi dan menyesuaikan diri, melainkan melupakan hal-hal berbau sosial dan lebih suka menyibukkan diri sendiri. Sikap dan cara bertingkah laku mahasiswa sebagai makhluk sosial seolah sudah terlupa.

Seperti halnya dalam lingkungan kampus, mahasiswa sibuk dengan diri sendiri tanpa memperhatikan sekitar. Apatis terhadap organisasi kampus, tidak peka dengan situasi dan kondisi yang ada, bahkan budaya senyum, salam dan sapa, sudah mulai pudar di kalangan mahasiswa. Hal ini tentulah berbahaya, apalagi jika dibiarkan berlarut-larut, akan menjadi kebiasaan yang sulit dirubah.

Padahal mahasiswa salah satu golongan yang mengobarkan semangat nasionalisme yang tinggi pada masa dahulunya. Hingga kemudian lahirlah organisasi-organisasi pergerakan pada tahun 1908 yang dikenal dengan Budi Otomo sebagai organisasi pelajar. Organisasi ini mengawali semangat munculnya organisasi pergerakan lain seperti Serikat Islam, Indiche Partij, organisasi Kristen, Muhamadiyah, NU, PNI dengan tujuan menuntut hak bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari kolonial penjajah.

Gerakan lainnya dari pemuda Indonesia tahun 1928, yaitu memuculkan Sumpah Pemuda dan mampu mengetarkan jiwa pemuda Indonesia untuk mencapai kemerdekaan yang sebenarnya, kesatuan bahasa dan bangsa Indonesia yang menjadi semangat untuk melawan kolonialisme. Tak sampai disitu, pada zaman fasisme Jepang, golongan muda pulalah yang menggerakkan golongan tua, kemudian melarikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok guna mempercepat proklamasi. Hingga akhirnya kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Masihkah ada pemuda Indonesia serupa pendahulunya pada era sekarang ini? Padahal mahasiswa merupakan insan akademis cerdas yang akan melanjutan estafet bangsa  Indonesia kedepannya. Seharusnya mahasiswa sebagai agen of change, agen control dan iron stock, memainkan peran sesuai karakter sebagaimana aslinya. Bukan malah terjebak dengan kondisi autis, dan melupakan tugas sesungguhnya.

Di tengah membanjirnya informasi dan teknologi yang semakin maju, mahasiswa seharusnya bisa mengendalikan. Menempatkan dan memanfaatkan teknologi sebagaimana seharusnya, bukan malah diperbudak dan hanyut oleh derasanya. Hal inilah yang justru menjadi pemicu autis tersebut. Mahasiswa terlena oleh globalisasi, terkungkung teknologi yang justru semakin menjauhkannya dari sekitar. Menghambat keterampilan sosialisasi, berkomunikasi lisan, kerja sama yang solid, serta kemampuan problem solving.

Sebenarnya, peduli terhadap lingkungan dan situasi serta kondisi sekitar dapat mencegah sikap autis sebelum mengakar. Sejatinya mahasiswa, pemuda, serta pelajar Indonesia merupakan pemegang kendali selanjutnya. Karena siapa lagi yang akan menyelamatkan keadaan bangsa ini kalau bukan golongan muda. Berani mengambil keputusan dan bertindak bijaksana merupakan tuntutan seorang muda, guna membebaskan bangsa ini dari penjajahan modern yang banyak melumpuhkan generasi penerus.

Mari cahayakan kembali peran mahasiswa yang sudah mulai redup. Karena di sini mahasiswa mempunyai andil yang besar untuk negeri. Bayangkan serupa apa bangsa ini mempunyai generasi yang cacat mental. Segala sesuatu semestinya dibenahi dari dalam diri. Serupa kutipan yang didengungkan oleh Samuel Smiles, Menabur pikiran, menuai tindakan. Menabur tindakan, menuai kebiasaan. Menabur kebiasaan, menuai karakter. Menabur karakter, menuai takdir

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.