Artikel » Artikel/Umum

Bukan Hanya Kartini

Oleh: Novarina Tamril
Rabu, 14 Mei 2014 | 19:39:00 WIB Share
Penulis Artikel Umum

Penulis Artikel Umum: Novarina Tamril 

Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. –R. A. Kartini. (Habis Gelap Terbitlah Terang Hal. 59).

Telah hampir satu setengah abad bangsa ini ditinggalkan oleh Pahlawan wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini. Meski telah sekian lama tiada, namanya masih tetap harum bagi masyarakat Indonesia. Terbukti dengan meriahnya seremonial yang digelar pada setiap tanggal 21 April sebagai peringatan atas hari lahirnya Kartini. Semua orang merasa perlu turut ambil bagian untuk mengenang Kartini. Pada hari itu, kita akan menemukan sajak-sajak bijak untuk Kartini bertebaran dimana-mana, mulai dari akun jejaring sosial, hingga iklan dan acara telivisi. Tidak hanya masyarakat biasa, lembaga pendidikan resmi pun juga ikut merayakan tanggal 21 April ini, seperti acara-acara kampus dan perlombaan-perlombaan yang diadakan di sekolah. Bahkan pada sebagian sekolah tingkat dasar pembelajaran tatap muka ditiadakan demi mengikuti perayaan seperti perlombaan berbusana kebaya atau pawai pakaian tradisional daerah lainnya.

Euforia ini dianggap pantas jika mengingat perjuangan Kartini yang bahkan tidak dapat dibayar dengan cara apapun. Pemikiran-pemikirannya melalui surat-surat yang ia tulis kepada sahabat penanya di Belanda, diketahui menjadi cikal bakal lahirnya emansipasi wanita. Disebut-sebut sebagai pelopor tokoh kaum feminimisme dalam memperjuangkan hak-hak wanita, kesetaraan gender dalam kehidupan sosial, menghapus paham-paham tradisional yang membatasi wanita dalam berkarya dan mengenyam pendidikan. Meski ia tidak sempat menikmati buah pikirannya karena ide-idenya baru terlaksana setelah ia tiada.

Namun sayang, bagai terhanyut dalam sebuah seremoni, kita seakan-akan lupa suatu kenyataan bahwa bangsa ini tidak hanya memiliki satu orang pahlawan wanita saja. Jika ditilik lagi ke belakang, ada begitu banyak nama yang terlupakan bahkan jasanya tidak diketahui sama sekali oleh generasi penerus bangsa masa kini. Ironisnya, sejarah mencatat sebagian dari pejuang wanita yang nyaris terabaikan jasanya ini hidup pada zaman yang sama dengan Kartini. Bahkan ketika Kartini memperjuangkan hak-hak wanita melalui korespondensi surat-menyurat dengan sahabat kompeninya, sebagian pahlawan wanita negeri ini telah lebih dulu memulai aksi nyatanya di lapangan.

Adalah Rohana Kudus (1884-1972) salah satunya.  Dilahirkan di Koto Gadang, Sumatera Barat dengan usia lebih muda lima tahun dari Kartini. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama Indonesia sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama di negeri ini. Ia menyebarkan ide-ide perjuangan melalui surat kabar yang ia terbitkan sendiri seperti Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (Padang) hingga Cahaya Sumatera (Medan). Pada zamannya, Rohana juga telah lebih dulu mendirikan sekolah yang bernama Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916).

Tidak hanya Rohana Kudus di Koto Gadang, ada lagi pahlawan wanita patriotik lainnya yang berasal dari Bandung, Jawa Barat. Ia bernama Raden Dewi Sartika (1884-1947). Pada tahun 1904 yang bertepatan dengan wafatnya Kartini, Dewi Sartika mendirikan sekolah bernama Sakola Istri yang berati Sekolah Perempuan di Bandung. Sekolah ini merupakan sekolah perempuan pertama se-Hindia Belanda. Pada tahun 1914 Sakola Istri berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan) dan pada tahun 1929 di usianya yang ke-25 tahun berganti nama lagi menjadi Sakola Raden Dewi. Karena jumlah murid yang semakin bertambah, belakangan Sakola Raden Dewi ini tersebar keluar Bandung bahkan sampai keluar pulau Jawa. 

Pada belahan timur Indonesia tepatnya Sulawesi Selatan, Siti Aisyah We Tenri Olle juga telah melakukan hal yang sama. Tenri Olle adalah Ratu dari Kerajaan Tanete yang memiliki masa kepemimpinan yang cukup panjang hingga 55 tahun lamanya (1855-1910). Tenri Olle adalah wanita yang terkenal cerdas dan cakap dalam pemerintahan. Untuk pertama kalinya, Tenri Olle berhasil mendirikan sekolah tanpa diskriminasi ekonomi, gender maupun sosial pada masyarakat Sulawesi Selatan kala itu.

Pada masa kepemimpinannya, Tenri Olle juga berpartisipasi besar dalam menyelamatkan salah satu sastra warisan dunia, epos I La Galigo. Ia menerjemahkan epos I La Galigo yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno yang tidak banyak dipahami oleh masyarakat kedalam Bahasa Bugis umum. Menurut Serba Sejarah.com,I La Galigo adalah sajak maha besar yang mencakup lebih dari 6.000 halaman folio. Setiap halaman naskah tersebut terdiri dari 10-15 suku kata, yang berarti cerita I La Galigo ditulis sekitar 300.000 baris panjangnya. Satu setengah kali lebih panjang dari epos terbesar Anak Benua India, Mahabharata yang hanya terdiri dari 160.000-200.000 baris.

Lain di timur, lain pula cerita yang datang dari belahan barat bumi pertiwi. Pahlawan wanita Aceh memiliki cara yang berbeda dalam mewujudkan sikap cinta tanah airnya. Sebut saja Cut Nyak Dien (1850-1908), aksi heroiknya langsung turun bergerilya masuk dan keluar hutan belantara melawan penjajah sungguh patut dibanggakan. Tak hanya Cut Nyak Dien, beberapa orang Pahlawan wanita lainnya dari Aceh seperti Tjoet Meutia (1870-1910), Tengku Fakinah, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, Sultanah Seri Ratu Tajul Safiatuddin Johan dan masih banyak lagi lainnya yang kini hanya tinggal nama.

Fakta bahwa Kartini lebih dikenang daripada pahlawan wanita lain negeri ini tidak dapat ditampik begitu saja. Kumpulan surat-surat Kartini yang belakangan dibukukan oleh seorang Belanda, J.H Abendanon membuat usaha Kartini dalam mengupayakan pendidikan bagi perempuan semakin dikenal banyak orang. Lain halnya dengan pejuang wanita lain yang jangankan perjuangannya, namanya saja tidak begitu banyak diketahui.

Terlepas dari segala perjuangan Kartini yang lebih diekspos sementara pejuang wanita lainnya ‘kalah pamor’, sebagai generasi penerus bangsa sudah sepatutnya kita menghargai jasa para Pahlawan tanpa membeda-bedakannya. Meski selama ini hanya ada hari Kartini, namun dedikasikanlah perayaan-perayaan tersebut untuk mengenang para pahlawan wanita lain yang telah tiada. Merujuk pada sebuah kalimat yang pernah disampaikan Ir. Soekarno dalam pidatonya pada Hari Pahlawan  10 November 1961, bahwa, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Kenanglah mereka dalam hati, wujudkan dengan tindakan bermakna demi kehidupan bangsa yang lebih baik. 

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.