Artikel » Sastra dan Budaya/Cerpen

Jodoh Keempat

Oleh: Novi Yenti
Rabu, 14 Mei 2014 | 16:58:00 WIB Share
Ilustrasi

Ilustrasi: Gumala 

“KUA-nya sudah datang!” sorak Janang dari ruang tengah. Pengantin laki-laki sudah duduk di atas kapuk lusuh berlapis kain panjang. Kopiah hitam berenda melingkar di kepalanya. Bukan untuk menutupi uban, namun karena tuntutan adat. Selain itu juga terpasang songket, kemeja putih, jas, dan lokak . Stelan muda benar gayanya.

“Angku sudah siap?” tanya bujang 25 tahun pada si pengantin laki-laki yang dipanggilnya angku.

“Sudah,” jawabnya setengah berbisik.

Lalu seorang Bundo Kanduang masuk ke dalam ruangan kamar. Dengan berjalan sedikit membungkuk perempuan setengah abad itu memasuki kamar yang sedikit dihias. Kamar berada tepat di samping pintu masuk utama.

“Marapulai dan KUA sudah siap. Bagaimana denganmu Supik?” tanyanya dengan nada rendah.

“Sudah Tek, insyaallah,” Wati menjawab manis. Seakan takut lipstik merah di bibirnya belepotan. Wati berdiri dari tempat duduknya lambat-lambat. Merapikan kebaya putih yang manik-maniknya mulai terjurai beserta songket yang mulai bersilang akibat terlalu lama duduk.

“Kali keempatnya kamu memakai kebaya ini. Tetap masih muat,” ujarnya sembari memandang Wati. Wati hanya membalas dengan senyum kecil.

Wati keluar dari kamar. Orang-orang dalam ruangan bergegas menggeser posisi duduknya. Memberi jalan perempuan itu untuk menuju mempelai pria.

“Dapat kita mulai?” tanya Pak KUA pada para hadirin.

“Sudah,” jawab para tamu yang hadir serempak. Kemudian Pak KUA menjabat tangan mempelai laki-laki.

***

Setahun yang lalu, tepat di bulan April, Wati bertemu dengan Zainuddin. Laki-laki yang kembali membujang setelah ditinggal mati oleh istrinya. Pertemuannya tak manis memang. Kala itu Wati bersitegang dengan Zainuddin. Masalahnya sepele saja. Zainuddin tak sengaja meyenggol sepeda Wati yang diparkir di samping kedainya. Sepeda yang kala itu berisi penuh dagangan ikan Wati, tumpah dan berserakan.

Selagi Zainuddin membersihkan ikan-ikan yang berserakan, tiba-tiba Wati datang dan berteriak. Ia syok melihat dagangannya yang berserakan. Kemudian ia mencaci maki Zainuddin. Zainuddin meminta maaf. Namun maaf tak mampu menghapuskan umpatan-umpatan kesal yang keluar dari mulut Wati.

“Berapa ganti ruginya, Diak? Biar uda ganti,” Zainuddin coba berdiplomasi. Tapi gayung tak bersambut. Ganti rugi yang ditawarkan tak juga mampu menghilangkan amarah di dalam hati Wati. Perempuan itu malah menatap tajam mata Zainuddin. Kemudian kembali mengumpat. Sebelum akhirnya mengayuh sepedanya cepat-cepat meninggalkan pasar. Tinggalah Zainuddin yang geleng-geleng kepala dengan tingkah Wati.

“Sabar saja. Maklum suaminya baru meninggal. Sedangkan anakanya harus sekolah pula,” ucap pedagang lain yang menyaksikan keributan Wati dan Zainuddin.

“Iya. Anaknya banyak pula,” sambung pedagang lainnya.

Zainuddin mengiyakan. Meskipun habis-habisan dicerca, tapi tak sedikitpun amarah di dalam hatinya. Malahan ia penasaran dengan sosok Wati ini. “Menarik,” gumamnya.

Keesokan harinya, Zainuddin sengaja pergi ke tempat itu lagi. Jelas tujuannya untuk bertemu lagi dengan Wati. Namun sampai senja berlalu, Zainuddin tak bertemu dengan orang yang ditungguinya.

***

Dua hari sudah Wati tak berjualan. Dia berkeliling di sekitar rumah. Sibuk mencari pinjaman ke sana ke mari untuk modal berdagang. Insiden dua hari lalu membuat dagangannya tak laku. Ia rugi besar. Dan sekarang belum punya modal untuk kembali melanjutkan usahanya.

“Bagaimana kalau ambo jual saja cincin ini, Mak?” adu Wati pada ibunya suatu sore.

“Tak bisakah kita cari pinjaman dulu, Ti? Cincin itu kan peniggalan terakhir Malik. Kasihan almarhum laki kau, belum lagi kering tanah kuburannya sudah seperti ini,” ucap perempuan itu dengan mata berkaca-kaca. Agaknya dia hiba melihat kondisi Wati.

 “Lalu kita bisa apa lagi, Mak?” tanya Wati sambil memalingkan wajahnya yang mulai dibasahi air mata.

“Kau bisa meminjam dulu kain-kain bawaan tamu undangan baralek adikmu dulu, Ti,”

“Tidak Mak, habis betul yang engkau miliki nanti Mak,” jawab Wati.

“Tak apa Ti,” bujuk ibunya lagi.

“Tidak Mak. Aku tak ingin merasa semakin berdosa dan durhaka pada Amak,” badannya terhoyak. Tangisnya mulai membuat sesenggukan.

“Jika cincin ini kujual, uangnya akan membantu membeli beras dan ongkos sekolah anak-anak mak, dan aku bisa berdagang kembali,” lanjut Wati.

Sang ibu pun kehabisan pikir mendengarkan aduan Wati. Kemudian berkata, “Jika memang tak ada solusi lain, lakukanlah apa yang menurutmu benar, Nak,” lanjut sang ibu beranjak dari tempat duduknya.

“Maafkan ambo uda. Cincin ini terpaksa ambo jual. Jangan takut uda. Uda akan selalu ada dalam hatiku.” Wati pun terisak sepeninggal ibunya. Bicara sendiri pada cicin emas yang melingkari jari manis di tangan kirinya.

“Sudahlah Wati, lebih baik kau ke ladang. Kulihat tadi sudah banyak rumput liar di sana,” sorak ibunya dari dapur.

Wati segera menyeka air mata. Kemudian bergegas menuruti saran sang ibu. Itu lebih baik daripada dia harus berlama-lama meratapi nasib.

Ladang Wati memang tak jauh dari rumah. Melewati rumpun bambu dan sebuah jembatan bambu yang membentang di sebuah sungai, sampailah ia di ladang. Jangan tanya apa yang ditanami di ladang itu. Sulit menjelaskannya. Di sana ada kunyit, serai, ruku-ruku, bunga-bungaan, cabe, tomat, kacang panjang, labu, dan masih banyak tanaman lainnya. Yang jelas, semuanya adalah kebutuhan sehari-hari. Tapi meski demikian hasilnya bukanlah semata-mata untuk isi dapur Wati. Kadang-kadang hasil ladang juga dijual pada tetangga. Hal ini dilakukannya untuk menambah uang belanjanya.

Setiba di ladang Wati mulai mencabuti rumput liar di ladangnya. Tangan kasarnya mengkilap disinari matahari. Wati tersenyum sendiri melihat tangannya yang pecah-pecah dimakan kutu air. “Apa yang dinikmati laki-laki dari aku yang seperti ini?” gumam Wati.

Sejenak pikirannya melayang ke masa lalu. Wajah bang Deri, Incim, dan Malik tiba-tiba melayang di kepalanya. Ketiganya adalah laki-laki yang pernah hidup bersama dengan Wati. Sama-sama menikmati suka dukanya kehidupan.

Bang Deri, suami pertamanya meninggal dalam kecelakaan pulang bekerja. Kecelakaan yang jauh dari kampung halaman menyulitkan jenazah dikebumikan di pandam pekuburan kaum. Hingga almarhum ditanam sekitar pemakaman umum dekat tepat tinggal Wati di perantauan dulu.

Selang setahun, Wati dilamar laki-laki yang biasa dipanggil Incim. Alasannya menikahi Wati yang kala itu beranak tiga adalah cinta terpendam semasa SMA. Manis memang, Wati kembali merajut bahtera rumah tangga dengan Incim. Aldi, Reyza, dan Vinda lahir dari cinta Wati dan Incim. Keluarga Wati baik-baik saja. Sampai akhirnya Incim meninggal dunia akibat penyakit liver yang dideritanya sejak lama.

Wati bisa terima jika kejadiannya satu dua kali saja. Mungkin takdir untuk Wati dan anak-anaknya. Tapi bagaimana kalau untuk ketiga kalinya?

Ya, meninggalnya Malik dalam perjalanan pulang dari ladang membuat Wati benar-benar terpukul. Dia merasa sangat  hina. Laki-laki yang bersamanya selalu berakhir kematian.

Bisik-bisik tetangga pun bermunculan. Rasa simpatik, bahkan fitnah menggaung dengan seketika di kampungnya. Seakan-akan Wati adalah pencari tumbal, yang menghadiahkan suaminya pada sosok gaib. Hal demikianlah yang membuat Wati tak kuasa. Kalau hanya dia yang menanggung tak apa. Tapi bagaimana dengan mental anak-anaknya nanti.

“Terkadang orang dekatlah yang membunuh karakter kita, Nak,” ujar seorang tetangga saat membesuk Wati yang sakit setelah meninggalnya Malik, suami ketiganya.

Berita meninggalnya Malik memang menjadi topik gosip dan fitnah paling empuk untuk Wati. Setelah tiga kali menikah dan keadaannya masih sama seperti sebelum menikah, kualitas ekonomi yang tetap di bawah rata-rata, kesehatan yang masih sering bermasalah, menikah tak memberi Wati setingkat kejayaan. Bahkan masalah tambah menggelayuti hidup Wati. Dari setiap pernikahan, selalu menghadirkan penerus baru di rumah Wati. Hingga kini Wati tinggal bersama delapan orang anak yang lahir berjarak setahun dua tahun.

Keinginan memiliki belahan jiwa jualah yang menguatkan Wati untuk kembali menerima pinangan Malik. Dikiranya Malik tak akan meninggalkan dunia dan membiarkan Wati sendiri lagi. Tapi ternyata itu perkiraan yang terpelincir. Malik juga menyusul dua suami sebelumnya.  Hanya saja, kematian Malik menjadi lecutan luar biasa bagi Wati. Pasalnya, tak ada lagi nasihat penyemangat. Melainkan hanya rutukan dan asumsi negatif luar biasa untuk dirinya.

Hendak mengapa, bahkan penjaga warung dekat rumahnya selalu mengangkat semua tentang dirinya menjadi topik gosip. Seakan takdir buruk dan hina memang sudah dipakukan dalam tubuh Wati. Tak mengapa jika yang menjadi korban cuap-cuap tanpa verifikasi itu hanya dirinya seorang. Namun kadang anak-anaknya juga menerima sodoran gunjingan berbisa para tetangga. Tak jarang si sulung menangis dan menceracau geram usai mendengar bisik-bisik tetangga.

Pengalaman buruk yang dialaminya membuat Wati trauma untuk berkeluarga. Takut suami selanjutnya akan bernasib sama dengan kasus-kasus sebelumnya. Dia pun berkomitmen untuk tak lagi mencari suami. Hidup menjanda selamanya. Tapi laki-laki yang dimarahinya dua hari lalu mulai menggoyahkan tekadnya.

***

“Subhanarabbika rabbi izzati amma yasifuun wasalamualalmursalin, walhamdulillahi rabbil alamiin.”

Semua orang yang hadir menyapukan telapak tangan ke wajah, pertanda doa dan akad usai sudah. Baik yang sama duduk bersila dan bersimpuh di ruangan akad, maupun di dapur. Wati bukan janda ditinggal mati lagi. Kini dia istri Zainuddin. Meski hingga pengunjung terakhir masih saja terdengar bisik-bisik ketakutan akan nasib Zainuddin. Wati mencoba hanya diam dan menikmati.

Zainuddin masih saja tenang, seakan sudah dipekakkan oleh bisik dibelakang tamu undangan. Sesekali diliriknya Wati, wanita berkerudung putih bermanik-manik itu sudah sah menjadi mahramnya. “Katakan padaku apa yang harus kulakukan untuk melindungimu Istriku?” pikir Zainuddin. Kemudian digenggamnya tangan Wati, diarahkan ke kening perempuannya itu. Wati paham, disalami imam barunya dan sejenak tangan legam Zainuddin diciuminya.

“Jika kau memang jodohku, maka kawanilah aku sampai liang kuburku Uda,” bisik Wati di telinga Zainuddin.

SELESAI

Share on:

Sastra dan Budaya/Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.