Artikel » Sastra dan Budaya/Catatan Budaya

Padi

Oleh: Meri Susanti
Rabu, 14 Mei 2014 | 16:54:00 WIB Share

Padi tumbuh tak berisik. (Tan Malaka)

Ia sedang tumbuh, bergerak menuju perkembangan. Menikmati proses dari kesejajaran sebuah peradaban maju. Segala hal diupayakan demi menunjukkan eksistensi diri. Tumbuh dan berkembangnya manusia bagai sebuah tanaman padi. Sebuah proses yang matang untuk mencapai tujuan tertentu. Tak menimbulkan keresahan bagi orang lain. Sangat bermakna dan disenangi oleh banyak orang. Begitulah halnya yang terjadi dengan proses pertumbuhan pada padi, padi tumbuh sangat tenang, terus berisi, dan terus pula merunduk. Padi terus tumbuh dengan bulir-bulir beras yang ada. Akan selalu merendah dengan bijak seiring dengan tanggungan bulir yang mulai berat. Kelak bulir ini akan sangat berguna bagi banyak orang untuk melanjutkan kehidupan.

Begitu istimewa padi dengan pertumbuhan yang tenang. Diam dan tak pernah berisik. Bagi penikmat kehidupan, akan mengetahui betapa padi sangat berharga di Bumi Pertiwi. Padi ikut berpengaruh dalam kehidupan rakyat Indonesia. Jayanya Ibu Pertiwi adalah satu oleh karenanya. Rakyat mampu bertahan hidup, melanjutkan keutuhan primer dalam laju tumbuh kembang kehidupan.

Dan tak kalah penting dengan eksisitensi padi sebagai tanaman yang paling penting di negeri kita Indonesia ini, dapat diselaraskan dengan arti penting seorang pemimpin yang juga turut ambil andil dalam memakmurkan rakyat Indonesia.

Sama halnya dengan padi, yang diharapkan dari pemimipin bangsa adalah dengan isi yang telah diseimbangkan dan disempurnakan, hendaknya dapat disesuaikan dengan budi yang dinyatakan dalam seni memimpin di Indonesia. Tak banyak bicara dan hanya perlu menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan. Mengupayakan keseimbangan dan berusaha agar keseimbangan tercipta.

Pemimpin yang seperti tumbuhan padi, semakin berisi tak berisik. Karena padi itu tumbuhnya tidak berisik. Namun harapan ini seolah hanya akan menjadi ilusi yang tak akan pernah ada di Indonesia. Hampir semua calon pemimpin Indonesia yang akan mengaktulisasikan diri sebagai orang yang akan bertanggung jawab adalah bekas dari orang-orang yang pernah mengecewakan hati rakyat Indonesia. Mereka berdaulat tinggi hanya pada maha tingginya sebuah jabatan. Bukan karena nurani kepemimpinan yang benar-benar sejati demi makmurnya Indonesia. Mereka adalah deretan calon pemimpin bangsa yang rela berkhianat.

Hal ini terbukti dengan deretan para calon pemilik kuasa terhadap negeri ini. Adalah sebuah catatan hitam tentang calon pemimpin yang akan menggerakkan roda pemerintahan. Misalnya calon kandidiat dari  partai politik. Sudah hampir dari semua partai politk yang ada di Indonesia memiliki riwayat tersangkut kasus korupsi.

Bahkan dengan catatan hitam tersebut, mereka masih bangga ikut dan sibuk menyoraki diri sebagai yang terbaik serta menuding yang lain dalam ketidakpantasan. Mereka mengapungkan diri sebagai satu-satunya kandidat terbaik. Dalam kredibilitas diri, para calon pemimpin bangsa selalu risau dan ikut membuat kehiruk-pikukan di Indonesia semakin menjadi-jadi. Mereka berteriak nyaring mengenai janji-janji politik yang akan dinyatakan di masa depan bila dirinya terpilih kelak. Berebut perhatian, bahkan dalam ketidakpercayaan diri, keberisikan mereka ciptakan untuk menarik perhatian rakyat indonesia. Berkemapanye sana-sini. Memajang foto diri di sepanjang jalan dan tempat umum yang dianggap strategis.

Ini tentang luka dan gugurnya politik bermartabat. Bukan lagi menjadi sebuah ideologi bangsa. Kata mereka, padi yang berisi memang harus berisik agar diketahui banyak orang. Miris!

Share on:

Sastra dan Budaya/Catatan Budaya lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.