Artikel » Artikel/Umum

Tribalisme Budaya

Oleh: Khadijah Ramadhanti
Selasa, 01 April 2014 | 11:40:00 WIB Share
Khadijah Ramadhanti

Khadijah Ramadhanti: Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia TM 2012.

Era modern yang berkembang saat ini tidak terlepas dari usaha masa lalu dalam mencari jati diri yang sesungguhnya. Namun, dalam masa itu adakalanya suatu tradisi atau kebiasaan masih tetap bertahan dalam sebuah pemikiran.

Zaman memang telah berubah, namun tidak semuanya harus baru. Begitu juga dengan pemikiran yang tertuang menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan. Jika suatu kebiasaan telah mendarah daging dalam pemikiran, akan sangat sulit untuk merubahnya. Apalagi kebiasaan yang tidak benar dan menyimpang. Misalnya kebiasaan masyrakat membakar kemenyan dalam upacara keagamaan, khususnya Islam, menyalakan lilin pada malam ke-27 di bulan Ramadhan yang diyakini mampu memanggil roh-roh nenek moyang, dan lain sebagainya.

Masyarakat menganganggap asap kemenyan dalam upacara keagamaan, seperti upacara kematian, syukuran, mandoa tulak bala, dan lainnya, dapat dijadikan sebagai alat perantara yang mampu menyampaikan doa ataupun permintaan kepada sang Pencipta. Jika kemenyan belum dibakar, maka upacara atau ritual keagamaan tidak akan dimulai. Tradisi inilah yang sampai sekarang masih bertahan dalam masyarakat Indonesia di suatu daerah tertentu. Di era derasnya arus globalisasi dan dalam masa depan yang tak pernah lepas dari keilmiahan, masih bertahan tradisi kuno yang sangat erat hubungannya dengan kebudayaan.

Sebagaimana halnya, kebudayaan sangat berkaitan erat dengan masyarakat. Budaya menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain. Artinya, budaya yang ada di suatu daerah tertentu akan mencerminkan perilaku masyarakatnya. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini diistilahkan dengan Cultural-Determinism. Herskovits juga memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai Superorganic.

Begitu juga dengan tradisi menyalakan lilin pada malam ke-27 di bulan Ramadhan, yang sudah lama berkembang sejak zaman nenek moyang, bahwasannya mereka masih menganut kepercayaan animisme. Dimana pemikiran masyarakat pada masa itu masih tergolong primitif. Bahkan di era modernisasi sekarang pun masih ditemukan kebiasaan-kebiasaan tersebut yang masih dekat dan melekat kuat dalam masyarakat. Padahal masyarakat sekarang sudah mempunyai pemikiran yang terus berkembang dan terbilang maju.

Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa tradisi tersebut masih ada di zaman yang serba modern seperti sekarang ini? Apa yang membuatnya masih bertahan? Kebiasaan yang disebut dengan tradisi kuno di sini, masih bertahan dikarenakan tradisi tersebut sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat. Pemikiran bahwa tradisi harus dijalankan dan sudah menjadi bagian dari kebudayaan yang telah lama berkembang, serta menjadi suatu keharusan yang tidak dapat lagi ditinggalkan.

Padahal sebenarnya jika dikaji dengan logika manusia, tradisi tersebut sungguh tidak masuk akal. Logikanya, tidak ada hubungan antara asap kemenyan dengan penyampaian doa kepada TuhanYang Maha Esa. Doa dan segala permintaan akan terkabul jika seseorang meminta pertolongan dengan sabar dan bersungguh-sungguh, serta ikhlas semata-mata hanya karena Allah SWT. Selain itu, apakah asap yang merupakan suspensi partikel kecil di udara (aerosol) mampu menyampaikan segala permintaan manusia? Tentu tidak. Begitu juga dengan kebiasaan menyalakan lilin pada malam ke-27 di bulan Ramadhan yang diyakini mampu memanggil roh-roh nenek moyang yang sebenarnya mengada-ada.

Namun, walaupun sebagian dari masyarakat sudah tahu bahwa hal itu mustahil dan tradisi yang tidak benar, mengapa harus dipertahankan? Hal inilah yang menjadi permasalahan dalam tradisi masyarakat sekarang. Apakah tradisi yang demikian masih akan tetap dipertahankan?  

Fenomena yang demikian, kecenderungan masih menganggap bahwa suatu kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat. Hal semacam ini termasuk tribalisme  yang berarti sebuah kesetiaan yang mendalam untuk suku seseorang, kelompok etnis, atau bangsa terhadap tradisi atau kebudayaan tersebut.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa suatu pemikiran dari tradisi yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat sangat sulit untuk dibongkar. Sebab, ada hubungan dialektika antara masyarakat dengan tradisi yang dijalankannya. Tradisi adalah produk yang lahir dari kebiasaan masyarakat, namun masyarakat itu sendiri adalah produk dari suatu tradisi. Dengan kata lain, tradisi ada karena ada masyarakat sebagai penciptanya melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya, dan masyarakat dapat hidup di tengah kebiasaan yang diciptakannya. Tradisi akan terus hidup manakala ada masyarakat sebagai pendukungnya. Dialektika tersebut didasarkan pada pendapat Peter L. Berger, yang menyebutkan sebagai dialektika fundamental.

Sebagai seorang yang hidup di tengah-tengah perkembangan zaman menuju dunia modern yang luas dan tak terbatas, seharusnya manusia mampu memperbaiki tradisi itu secara perlahan-lahan. Menggeser kebiasaan yang salah dan menyimpang, dan menuntun masyarakat lebih berpikiran maju, merubah gagasan-gagasan primitif yang memiliki condong kuat pada tradisi kuno. Seumpama kebiasaan, lingkungan masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat cepat terhadap perubahan.

Share on:

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.