Artikel » Sastra dan Budaya/Catatan Budaya

Prematur

Oleh: Media Rahmi
Senin, 30 Desember 2013 | 11:00:00 WIB Share

Anda mungkin pernah mendengar kata prematur. Malahan sering sekali, mungkin. Jika mendengar kata prematur, maka spontan akan terbayang bayi yang lahir sebelum waktunya. Bayi yang masih lemah dan susah untuk bertahan hidup. Butuh bantuan dan perawaan khusus untuk membuatnya tetap bertahan. Kata prematur sendiri dalam KBBI berarti pradini atau belum waktunya. Berarti masih mentah atau belum matang. Jika kita kaitkan dengan keadaan saat ini, maka prematur cocok untuk menganalogikan krisis kepemimpinan yang terjadi di negara kita.

Sebagai gambaran, kita bisa memerhatikan mahasiswa saat ini yang notabenenya adalah calon pemimpin 5 hingga 10 tahun ke depan. Kebanyakan dari mereka masih sangat ‘prematur’ untuk dijadikan pemimpin. Bagaimana tidak, sebagai agent of change, mereka masih saja sibuk dengan hal-hal yang berbau hedonisme, apatis, dan konsumtif. Padahal mereka akan dihadapkan dengan sebuah tantangan besar untuk menjadi khalifah bagi negeri ini.

Masih banyak mahasiswa yang lebih memilih berhura-hura dengan teman, daripada menyibukkan diri dalam sebuah organisasi. Di Universitas Negeri Padang misalnya. Dari sekitar 35 ribu lebih mahasiswa, yang aktif dalam organisasi hanya sekitar tiga ribuan orang. Cukup miris. Hal ini mungkin terjadi karena ada asumsi yang salah tentang berorganisasi. Banyak yang mengira, jika terlibat dalam organisasi hanya akan membuang waktu atau mengurangi waktu belajar mereka. Sedangkan sebagian lainnya sibuk dengan urusan sendiri. Mereka tidak mau peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Hanya sedikit di antara mereka yang benar-benar mau mempersiapkan diri untuk menjadi the real leader.

Tak hanya yang akan menjadi calon pemimpin, yang seharusnya sudah menjadi pemimpin pun juga demikian. Masih prematur. Misalnya para calon legislatif (caleg). Mereka yang seharusnya telah membawa negara ini berprestasi di mancanegara, ternyata malah sibuk dengan kepentingan pribadi. Mereka sibuk memikirkan bagaimana agar bisa memenangkan pemilihan umum saja. ‘Ketidakmatangan’ mereka untuk dijadikan pemimpin membuat mereka berusaha untuk melakukan berbagai cara untuk mendapatkan jabatan. Mereka berlomba-lomba untuk menaikkan citranya saja lewat spanduk-spanduk, baliho-baliho, dan iklan-iklan di TV. Hal ini mereka lakukan karena tahu masyarakat tidak akan memilihnya jika ketahuan tidak memiliki kompetensi yang layak untuk jadi pemimpin. Maka agar bisa dipilih, mereka berlomba-lomba memperbaiki citranya di hadapan masyarakat. Tapi akibatnya, saat mereka telah menduduki jabatan, mereka tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali menyalahkan pemimpin sebelumnya atau malah menyalahkan masyarakatnya sendiri.

Seharusnya, baik itu yang akan, yang sedang, maupun yang telah menjadi pemimpin, harus mempersiapkan diri untuk menjadi ‘tonggak’ bagi negeri ini. Tidak cukup hanya dengan kemampuan di bidang akademis saja. Kemahiran di bidang non-akademis juga sangat dituntut. Mereka harus berpengalaman dalam sebuah organisasi misalnya.

Kenapa harus dalam berorganisasi? Hal ini karena banyak hal yang ada di organisasi, yang tidak mereka dapatkan dalam pembelajaran di kelas. Selain itu, berbagai persyaratan lain seperti pelatihan dan prestasi juga bisa menjadi tuntutan bagi seseorang untuk menjadi pemimpin. Jika demikian, maka fenomena tungkek mambaok rabah atau pemimpin yang membawa rakyatnya ke ambang kehancuran tidak akan terjadi lagi.

Share on:

Sastra dan Budaya/Catatan Budaya lainnya

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
Iklan
menerima tulisan
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.